Kampung Kapitan 7 Ulu, Pesona Lain Bumi Sriwijaya

(foto : Ist)

jalanjalankitadotcom – Tidak hanya sukses menjadi salah satu tuan rumah ASIAN Games tahun 2018, Sumatera Selatan yang terkenal dengan Bumi Sriwijayanya, juga mampu menyuguhkan beragam pilihan destinasi wisata kepada para kontingen yang bertanding maupun pengunjung.

Tak melulu harus Jembatan Ampera ataupun Pulau Kemaro yang memang sudah terkenal, Sumatera Selatan juga menawarkan sejumlah destinasi ekostis lainnya bagi para pengunjung selama perhelatan ASIAN Games berlangsung.

Kami merangkum beberapa destinasi unggulan, yang sangat teramat sayang untuk tidak disinggahi, selagi kamu berada di Bumi Sriwijaya, salah satunya adalah Kampung Kapitan 7 Ulu.

Kampung Kapitan 7 Ulu

Tidak ubahnya dengan Kampung Arab Al Munawwar, Kampung Kapitan ini juga merupakan  pemukiman warga namun khas etnis Tionghoa.

Jika ingin berkunjung ke kampung Kapung Kapitan, Anda bisa naik angkutan umum jurusan Ampera-Kertapati, dan berhenti di Simpang Pasar Klinik. Dari sana Anda Anda bisa berjalan hingga simpang tiga, dan Anda akan menemukan papan tulisan Kampung Kapitan di tepi kiri.

Kampung Kapitan diambil dari julukan Tjoa Ham Hin, yang merupakan seseorang keturunan marga Tjoa, yang dipercaya Belanda untuk Mengawasi pajak kira-kira 400 tahun lalu.

Kini, penerus marga Tjoa yang masih hidup dan menempati rumah Kapitan, Tjoa Tiong Gi atau Mulyadi, anak kesembilan dari Babe Kohar yang kini menetap kembali di rumah Kapitan.

Foto: Ist

Rumah Kapitan memiliki 2 bangunan besar yang saling terhubung di sisi tengahnya, dengan ruang kosong dari lantai atas hingga ke kelantai bawah.

Rumah yang pertama kali dibangun berada disisi kanan disebut rumah batu, yang merupakan rumah sembahyang bagi para keturunan marga Tjoa, yang memiliki 4 kamar besar dan 2 kamar Kecil.

Satu kamar yang menghadap ke arah Benteng Kuto Besak, dulunya adalah kantor yang digunakan Kaputan untuk memantau kapal-kapal yang datang.

Selama berlangsungnya Asian Games, kunjungan wisatawan memang jauh meningkat khususnya dari wisatawan mancanegara.

Pulau Kemaro

Setelah Rumah Kapitan, destinasi berikutnya adalah Rumah Kemaro yang bisa diakses melalui jalur sungai.

Destinasi ini terkenal dengan legenda cerita romantisnya, yang harus berakhir tragis.Nah biar kamu penasaran, mending intip langsung ceritanya ke lokasi ya hehehe.

Serunya selama perjalanan, kita akan menumpang perahu getek yang memberikan sensasi perjalanan tersendiri karena menyusuri aliran Sungai Musi.

Untuk menemukan angkutan sungai ini, kita bisa mendapatnya dari bawah Jembatan Ampera atau  Dermaga 16 Ilir atau juga dari Dermaga Benteng. Ongkosnyapun murah meriah yakni antara Rp 10-20 ribu per orang.

Dan super spesial selama pelaksanaan Asian Games, juga disiapkan Bus Air khusus yang bisa kamu manfaatkan untuk mengakses berbagai destinasi wisata dengan super nyaman.

Kampung Arab Al Munawar

Destinasi satu ini sangat instagramable, karena memiliki banyak bangunan-bangunan lama bernuasan Timur Tengah yang sangat cocok untuk latar belakang berfoto.

Kampung Arab Al Munawar juga memiliki kisah sejarah tersendiri. Nama kampung ini diambil salah seorang tokoh sesepuh keturunan Arab, yakni Al Habib Abdurrahman Al Munawwar, yang dulunya datang ke kampung iin dengan membawa ajaran Islam dan mendirikan perkampungan Arab.

Tak hanya bangunan, mayoritas warga di sini memang memiliki ciri-ciri layaknya orang-orang Timur Tengah, mulai dari hidung yang mancung hingga alis yang tebal.

Total ada 8 rumah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, enam ada di area depan mengelilingi lapangan yang luas dan dua lainnya berada di belakang menghadap aliran Sungai Musi. Jumlah rumah ini sesuai dengan jumlah anak dari Al Habib Abdurrahman Al Munawwar.

Klenteng Candra Nadi

Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi (Soei Goeat Kiang), berada di kawasan 10 Ulu dan merupakan  Klenteng tertua di Palembang.

Juga dikenal sebagai Klenteng Kwam Im dan sudah ada sejak tahun 1773 M, tepatnya di masa Kesultanan Palembang Darussalam. Klenteng ini masih aktif digunakan untuk keperluan prosesi ibadah masyarakat Tinghoa.

 

Bagikan ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.