9 Wisata Wajib di Bukittinggi, Hanya Dalam 4 Jam

Salah satu view Ngarai Sianok yang bisa kita nikmati dari salahs atu sudut lokasi Taman Panorama di Kota Bukittinggi Sumatera Barat.

jalanjalankitadotcom – Mengunjungi negeri Minangkabau alias Sumatera Barat, tentu akan membuat kita merasa wajib mengunjungi puluhan lokasi wisata khususnya sejarah, di tanah kelahiran salah satu tokoh Proklamator NKRI ini.

Kota kelahiran Bung Hatta, Bukittinggi menyimpan sejarah panjang dari sejumlah bagian perjalanan penting bangsa ini #soksejarawannih #percayagak #ngawurnihbocah #soktahu #tenanpora hahaha. 😀  😆  😀  😮  😀

Ada begitu banyak peninggalan sejarah yang ada di kota yang terkenal dingin dan sejuk ini. Disamping itu, pesona  alam yang dihasilkan dari topografi alamnya juga luar biasa indah. 😎  😎  😎

Kerennya lagi, semua objek wisata wajib alias unggulannya Kota Bukittinggi ini, posisinya sangat berdekatan satu sama lainnya. Sehingga bisa dijangkau seluruhnya, hanya dalam hitungan beberapa jam.

Bahkan buat kamu yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Bukittinggi, dijamin gak perlu khawatir bakal tersesat, karena memang tak terlalu sulit menemukan titik-titik wisata berikut ini.

(Baca juga: Air Terjun Temam, Niagara Mini Dari Lubuk Linggau)

Ditambah, adanya pengelolaan terpadu sistem pariwisata di sini, yang terlihat dari banyaknya peta-peta objek wisata terhubung, baik dalam bentuk pamflet, ataupun peta petunjuk yang dicantumkan di tiket-tiket masuk objek wisata di sini, keren kan.

So pokoke wajib pede abis deh guys kalo mau bernarsis ria di mari, dengan begitu banyak latar belakang objek wisata berbeda hanya dalam setengah hari sob.

Biar gak ngerasa kena jebakan batman, buat agan-agan yang buru-buru dan malas baca panjang lebar sampe baris terakhir artikel ini, sudah ane siapkan bagian ringkasan di awal artikel berikut. Sementara untuk penjelasan lengkap setiap objek wisata, bisa langsung scrol ke bawah ya.

Ini karena memang artikelnya terpaksa menggelendot panjang lebar guys, meskipun sebenarnya setiap point hanya berisi penjelasan singkat dari setiap objek wisata.

Nah langsung ajah nih biar gak pada mupeng, berikut ke-9 objek wisata yang wajib loe kunjungi saat berada di Kota Bukittinggi Sumatera Barat #asik #dijaminirit #ongkosirit #bukittinggikerenmen.

9 Wisata Wajib di Bukittinggi Hanya dalam 4 Jam:

  1. Jam Gadang
  2. Istana Bung Hatta (Gedung Negara Tri Arga)
  3. Benteng Fort de Kock
  4. Kebun Binatang Bukittinggi (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan)
  5. Jembatan Limpapeh
  6. Taman Panorama
  7. Lubang Jepang
  8. Ngarai Sianok
  9. Pasar Atas (Pasar Wisata)

 

  1. Jam Gadang

Traveller Indonesia mana sih yang belum pernah denger dengan salah satu ikon wajib bin utamanya Bukittinggi bahkan mewakili Sumatera Barat ini di Indonesia? Pastinya setelah bentuk Rumah Gadang dan kerbaunya yang tersohor itu sob.

Jam Gadang berada persis di jantung Kota Bukittinggi, dan ini merupakan salah satu titik destinasi pertama yang wajib loe datangi, begitu sampai di kotanya Bung Hatta ini guys. Kenapa? gak lain karena di manapun loe menginap di Bukittinggi, ane jamin banget gak butuh waktu lebih dari 15 menit untuk menemukan lokasi Jam Gadang.

Ditambah lagi, mayoritas penginapan memang begitu banyak tersebar di sekitar Jam Gadang, yah ada belasan githu menurut hitungan ane, mulai dari kelas penginapan biasa hingga hotel berbintang 5 nya ada #yangbintanglimaguabelumcoba #kapancobainyah hahaha.

Salah satu nilai lebih berkunjung ke Jam Gadang pada malam hari, adalah kita bisa membawa kendaraan kita (motor) untuk dipajang lebih dekat dengan Jam Gadang agar dokumentasinya lebih kece badai sob hehe.

Ada satu saran nih dari kami berdua guys kalo kemari, sangat rekomended untuk datang kemari di malam hari. Kenapa? karena di malam hari foto yang bakal loe dapat pasti kece, karena ada begitu banyak warna-warni efek penerangan, yang dipasang untuk menyinari Jam Gadang.

Jadi kita bisa dapetin beraneka efek warna Jam Gadang yang berbeda meski berdiri di satu titik yang sama.

Nah ini yang satu lagi, khusus buat loe traveller bikers atua travel biker yang kebetulan mau berpose ama kuda besi tunggangan loe, sangat pas kalo datang dimarinya itu jelang tengah malam.

Ini karena biasanya mulai pagi hingga sekitar pukul 20.00 WIB, kawasan ini akan dijaga ketat Satpol PP, yang tidak memperkenankan sepeda motor parkir di lokasi terdekat dengan Jam Gadang.

Sayangkan jauh-jauh touring, tapi motornya gak bisa ikut selfie dimari xixixi. Tuh contoh foto dengan kuda besinya ada noh gua pasang #narsistime #buktihadir #bikerstraveller #jamgadangbikinkangen.

Trus kenapa mesti malam hari, itu karena kalo malam suasana dimari jauh lebih semarak guys, lebih rame dan lebih banyak hiburan seni kaki lima yang mentas dimari. cool gak tuh

  1. Istana Bung Hatta (Gedung Negara Tri Arga)

Objek wisata berikut ini, persis berhadapan dengan Jam Gadang. Sehingga sayang banget dunk dilewatkan kalo sudah puas bercekrek-cekrek ria di area Jam Gadang.

Istana Bung Hatta, atau disebut juga Gedung Negara Tri Arga, merupakan bangunan bekas kediaman Wakil Presiden RI Pertama, Mohammad hatta. Bangunan yang tampak saat ini, adalah hasil renovasi yang dilakukan pada tahun 1960 lalu, setelah bangunan aslinya hancur saat Agresi II Militer Belanda.

Tri Arga sendiri merujuk simbol pemandangan di sekeliling Kota Bukittinggi yang diapit 3 gunung, yakni Gunung Singgalang, Gunung Merapi dan Gunung Sago.

Awalnya gedung ini merupakan kedudukan Residen Padangse Bovenlanden dan Asisten Residen Agam, sebelum akhirnya difungsikan sebagai kantor Wakil Presiden Mohammad Hatta, antara periode Juni 1947 hingga Februari 1948.

Taman Bung Hatta, berada persis di bagian belakang Istana Tri Arga atau Istana Bung Hatta. Ane dan istri akhirnya menjadikan lokasi ini sebagai ajang berfoto, untuk mengobati kekecewaan karena ternyata Istana Bung Hatta tertutup untuk umum termasuk wisatawan, hemmm sayang banget yah.

Gedung ini kemudian menjadi salah satu gedung bersejerah, karena sempat menjadi kantor pemerintahan sementara Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), saat Belanda menduduki ibukota Yogyakarta.

Cuma  itu dia guys sayang sangat disayang seribu ribu sayang. Entah kenapa dan bagaimana, kita nih para pejalan maupun pengunjung, tidak diperkenankan oleh si pengelola untuk masuk apalagi memotret suasana di dalam Istana Bung Hatta.

Padahalkan lewat aktifitas dokumentasi ini, cerita dan sejarah bekas kantor Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ini bisa terus dibaca banyak orang.

  1. Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock merupakan peninggalan Kolonial Belanda di Kota Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat.

Benteng ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukittinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan.

Salah satu sudut penampakan dari sisa sisa angkuhnya Benteng Fort De Kock yang menjadi salah satu saksi sejarah peperangan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukittinggi. Kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukittinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.

Benteng ini adalah satu dari 2 benteng belanda yang ada di sumatera barat , yang satu lagi terletak di Batusangkar dengan nama benteng Fort Van der Capellen karena 2 kota inilah dahulu yang paling susah ditaklukan belanda saat Perang Paderi.

Daripada pusing dengan sejarahnya, mending kita cari spot-spot foto kece di area Benteng Fort De Kock, setuju kan pemirsa?

Didirikan oleh Kapten Baron Bouer di tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus ke Kock, saat menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Itulah kemudian benteng ini dikenal dengan nama Benteng Fort De Kock.

Benteng ini terletak di atas Bukit Jirek dan digunakan Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau, terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.

Sejak direnovasi pada tahun 2002 lalu oleh pemerintah, Fort de Kock, kawasan benteng Fort de Kock kini berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park).

Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan bercat putih-hijau setinggi 20 meter. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. (wikipedia)

  1. Kebun Binatang Bukittinggi (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan)

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan Kebun Binatang Bukittinggi, terletak di atas Bukit Cubadak Bungkuak Bukittinggi, provinsi Sumatera Barat.

Menjadi salah satu kebun binatang tertua di Indonesia, dan merupakan satu-satunya di Sumatera Barat dengan koleksi terlengkap di Pulau Sumatera.

Kebun binatang ini dibangun pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an, dengan nama Stormpark (Kebun Bunga).

Pembangunan kebun binatang ini dirancang oleh Gravenzande, Controleur belanda yang bertugas di kota Bukittinggi pada waktu itu.

Pada awal pembangunannya, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini hanya berupa taman yang belum mempunyai koleksi binatang, kemudian beberapa koleksi hewan mulai dimasukkan kedalam taman tersebut, dan barulah pada tahun 1929 tepatnya pada tanggal 3 Juli taman ini dijadikan kebun binatang dengan nama Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr. J. Hock.

Jembatan Limpapeh, dibangun sebagai penghubung antara Kebun Binatang Kinantan dengan Benteng Fort De Kock di Kota Bukittinggi.

Pada tahun 1935, di area kebun binatang ini dibangun Rumah Adat Baanjuang (Rumah gadang) bergonjong gajah maharam, yang mempunyai 9 ruang dengan anjungannya di bagian kanan dan kiri.

Kemudiannya lagi, terjadi perubahan nama dari Fort De Kocksche Dieren Park menjadi Taman Puti Bungsu. Dan pada tahun 1995 melalui peraturan daerah No. 2 Tahun 1995 juga terjadi perubahan nama dari Taman Puti Bungsu menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. (wikipedia)

  1. Jembatan Limpapeh

Nah objek ini yang sempat ane dan istri kepo abis, pas mencari lokasi makan malam sesaat setelah tiba di Kota Bukittinggi.

Dua kali kami mengulang menyusuri Jalan Ahmad Yani, kami makin bertanya-tanya tentang penampakan jembatan yang melintang di atas kepala kami.

Karena sempat mengira ini jembatan penyeberangan bagi pejalan kaki umumnya di kota-kota besar lain di Indonesia, ane bahkan sempat mencari-cari di mana titik naik alias tangga di kedua sisi tepi jalan.

Makin Penasaran karena ternyata gak ada akses tangga naik dari pinggir jalan ini, jadilah kami akhirnya menggerutu karena dihimputi rasa super penasaran yang belum terjawab.

Jembatan Limpapeh.

Bahkan jawaban dari salah seorang rekan bikers BTC (Bukittinggi Tiger Club), malah makin membuat kami bertanya-tanya.

“Oh itu Jembatan Limpapeh namanya bang, menghubungkan Benteng Fort De Kock dengan Kebun Binatang Kinantan.” jelas rekan BTC ini singkat.

Karena kami memang datang tanpa bekar informasi awal objek-objek wisata di Bukittinggi, akhirnya kami memilih mengangguk-ngangguk saja dan sepakat untuk langsung browsing setelah selesai makan malam hehe.

Jembatan Limpapeh, merupakan jembatan gantung di atas Jalan Ahmad Yani Kota Bukittinggi, yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau Kebun Binatang Bukittinggi dengan Benteng Fort De Kock.

Jembatan ini sih menurut ane sangat istimewa, baik karena menghubungkan kedua objek wisata Benteng dan Taman, juga karena pemandangan yang kita dapat dari atas jembatan ini luar biasa keren.

Kita bisa memandang tingginya Gunung Merapi yang menjulang (eh Merapi or Singgalang yah sebenarnya wkwkwk), serta hamparan luas Kota Bukittinggi di sisi lain jembatan. Pokoke wajib selfie dan punyak banyak foto kalo pas di atas jembatan ini yah, please jangan dilewatkan hehe.

  1. Taman Panorama

Lebih seru itu kalo jalan-jalannya gak perlu jauh tapi bisa menikmati beberapa objek wisata berbeda sekaligus. Dan hal ini bisa kita dapatkan, di Taman Panorama Kota Bukittinggi yang terletak di Jalan Panorama. Serunya itu, karena ketiganya merupakan objek wisata berbeda yakni wisata alam dan sejarah.

Di Taman Panorama, kita bisa mendapatkan pemandangan keindahan taman dengan sejumlah sarana permainan anak dan bersantai, hingga pusat grosir semua bentuk oleh-oleh Kota Bukittinggi.

Penampakan salah satu gerbang akses masuk ke Taman Panorama di Kota Bukittinggi.

Tak jauh dari kedua pintu gerbang, kita juga bisa langsung menemukan pintu masuk utama ke lubang Jepang. Lubang Jepang merupakan terowongan yang dimanfaatkan sebagai lokasi perlindungan dan pertahanan tentara Jepang.

Terowongan sepanjang 1.400 meter ini, memiliki beberapa ruang khusus mulai dari ruang penyergapan, ruang pengintaian, penjara, ruang rapat, ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.

Dan pemandangan ketiga yang tak kalah elok, adalah pesona alam dari Ngarai Sianok. Ngarai Sianok sendiri adalah lembah curam (jurang) yang kedalamannya lebih dari 100 meter dengan bentangan sekitar 15 kilometer dan lebar sekitar 200 meter.

Nah untuk menikmati dan mendapatkan foto-foto selfie dengan ketiga latar belakang objek wisata sekaligus ini, kita cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 5 ribu per orang.

  1. Lubang Jepang

Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan, yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.

Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh.

Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.

Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini.

Akses masuk utama ke Lubang Jepang, yang ada di area Taman Panorama Bukittinggi. Selain pintu masuk ini, masih ada beberapa akses masuk lain yang berada di sisi bagian sisi lembah Ngarai Sianok, namun tak dibuka untuk umum.

Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.

Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah pada tahun 1984, oleh Pemerintah Kota Bukittinggi. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

  1. Ngarai Sianok

Merupakan sebuah lembah curam di perbatasan Kota Bukittinggi, di Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Ngarai Sianok memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh.

Ngarai Sianok membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). 

Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi, yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih.

Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.

Pengalaman ane dan istri sih, di kawasan ini satwanya memang luar biasa banyak (terutama monyet). Itu monyet bahkan sudah banyak kita jumpai sejak masuk ke kawasan Taman Panorama, sepanjang kios oleh-oleh Taman Panorama, dan makin lebih banyak lagi, bila kita turun ke bagian lembah.

Lokasi lesehan di kawasan Ngarai Sianok yang kami pilih sebagai lokasi makan siang sekaligus bersantai sejenak usai mengelilingi sejumlah objek wisata di Bukittingi. Lesehan ini akan kita temukan setelah jembatan di Ngarai Sianok, tepatnya sekitar 500 meter setelah jembatan.

Saran kami berdua sih, sobat traveller wajib nih turun ke bagian lembah, melalui akses jalan lintas yang juga menawarkan pemandangan nan elok. Kita sangat recommended, karena di bagian lembahnya, ada begitu banyak resto dan lesehan, yang menawarkan sajian makanan dengan pemandangan alam yang luar bisa mempesona.

Pengalaman makan di sini sih, menurut ane terlalu sayang untuk dilewatkan. Terlebih letaknya juga cuman sekitar 5-10 menit dari Taman Panorama.

9. Pasar Atas (Pasar Wisata)

Nah setelah puas dan capek berkeliling ria menikmati pesona alam dan wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, ane dan sang istri memutuskan mencari buah tangan untuk keluarga di rumah.

Karena kami memang berpergian dengan motor, maka kami berencana mengirimkan oleh-oleh ini dengan cara dipaketkan. Rencana awalnya sih via PT POS, tapi kami kecewa karena meski kami datang di kantor POS itu sekitar pukul 14.50 WIB, kantornya udah tutup duluan (mungkin karena hari sabtu).

Akhirnya terpaksa deh kami mencari akal lain, dan memutuskan mencari loket bus. Ketemunya sih waktu itu cuman loket bus githu di Terminal Bukittinggi. Tapi alhamdulillah kirimannya lancar dan tiba di Kota Bengkulu tepat waktu.

Nah ini bukan promosi merek travel bus ya, tapi emang travel bus inilah yang kami pilih untuk mengirim paket kecil kami ke Bengkulu dari Bukittinggi.

Oh iya, kami mencari oleh-oleh di Pasar Atas, setelah mendapat saran dari salah seorang pengelola lesehan makan di lembah Ngarai Sianok.

Waktu itu sih kita nanyanya dimana ya bisa dapetin oleh-oleh keripik sanjai dengan harga termurah. Kita pengennya waktu itu sih langsung ke lokasi home industri alias perajinnya. Tapi karena waktu kami sangat mepet (sore kami berencana lanjut gas ke Kota Padang), akhirnya kami putuskan ke Pasar Atas.

Di sini sih terbilang cukup lengkap ya aneka olahan makanan oleh-olehnya, nyaris seluruhnya ada. Tapi belajar dari pengalaman kami berdua, kalo menawar dan sepakat harga, lebih baik hitungannya berdasarkan timbangan kiloan, jangan berdasarkan bungkus.

Ini salah satu pengalaman pahit yang kami berdua dapatkan, akibat ulah nakal si pedagang. Ya kami tidak terpikir bila isi setiap kemasan plastik yang kami sepakati, belakangan setiap packingnya berbeda-beda, dan mirisnya itu sangat jauh menyusut dari sampe kemasan yang kami lihat. 😈  👿  👿

Jadi pintar-pintar dan harus lebih jeli dari para pedagang di sini, apalagi kalo kita mesannya dalam jumlah banyak. Wah bisa tekor dan kalah banyak kalo kita gak cermat dan superbawel ama si pedagangnya.

Nah puuaaannjang lebar kan ocehan kami kali ini hahaha. Nulisnya aja ampe dibuat jadi PR nih karena dikerjakan di sela-sela waktu kerja, apalagi yang baca ampe bagian akhir hehehe. 😉  😉  😀

Terimakasih super banyak buat yang rela melotot hingga akhir bagian ini yah, dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar agak bisa kami kunjungi balik. selamat bersenang-senang di Bukittinggi ya… 😎  😎  😎  😆  😉  😉

 

 

Bagikan ke

27 thoughts on “9 Wisata Wajib di Bukittinggi, Hanya Dalam 4 Jam

    1. Iya mb sayang banget loh berarti, kami aja bercita cita utk jalan2 lgi ke sana suatu saat nanti, ada byk tempat yg sangat sayang sekali utk dilewatkan, Indonesia itu indah bangetttt hehehe

  1. Nice info nih. Bisa di list kalau ada kesempatan maen ke bukittinggi. Semoga kesampaian..
    Lihat dan baca aja pengen banget kesana. Pengen bisa secara langsung mengabadikan foto..he

  2. wah indah banget y pemendanganya. jadi kepengen ni heheheh..
    salam kenal sob. semoga semua postingannya bermanfaat Amiin.
    ohya kalu ada waktu bolehlah kalu ada waktu berkunjung di tempat aq hehehe

    1. nah wajib segera disiapkan itu gan…sayang kali, selain medan, menurut kami sumbar wajib jdi tujuan di sumatera, kalo medan terkenal dengan Toba, Sumbar juga punya destinasi2 wisata nan elok

    1. cocok kan, Ngarai Sianok is the best lah, soale dekat dengan pusat kota, jdi menjangkau nya enak, trus di sini banyak banget objek2 wisata lainnya, mulai dari Janjang Seribu alias Tembok China-nya Padang, ada persawahan ngarai Sianok yg instagramable bingits itu, ada jalan aspal berliku yg juga instapic, ada puluhan lesehan di bagian lembah yg bikin gak mau balik2 lagi ke rumah dan masih byk lagi, wahh pokoknya seminggu kayaknya blm puas deh buat eksplore di sini hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*