Belajar Dari Jejak Sejarah Solo

jalanjalankitadotcom – Perjalanan ku yang satu ini memang sudah cukup lama, bahkan aku sendiri sudah lupa persis tahun berapa. Ya kira-kira 2 atau tiga tahun lalu lah, saat itu menulisku masih dengan banyak kedunguan karena hanya sekedar menulis.

Benar kata orang tua, sadar atau tidak kita akan banyak belajar dari masa lalu dan apa yang sudah kita kerjakan. Buatku, satu hal yang sangat disesalkan, adalah hilangnya arsip-arsip dokumentasi saat aku berkunjung ke Kota Solo dan Karang Anyar, salah satunya ke Astana Giri Bangun.

Bukan karena sentimentil terhadap sosok mantan presiden RI itu, tapi lebih kepada rasa sesal karena aku belum sempat menuangkan dokumentasi perjalananku dalam bentuk tulisan. Dan apesnya, saat malam tadi aku mencari-cari di hardisk, BB (blackberry) yang sudah lama masuk peti, maupun arsip di kantor, bahkan akun sosial media, tak ada satupun aku temukan sisa-sisa dokumentasi itu.

Beuh, memang itu tak berharga mungkin bagi banyak orang khususnya para pejalan yang saban bulan berpindah-pindah kota dan punya banyak jam perjalanan. Lah bagi saya yang masih lebih banyak di depan monitor, hal ini tentu menjadi kerugian besar.

Jadilah akhirnya coba-coba buka blog lama, dan..yapp…aku dapat satu tulisan yang sempat tertuang saat itu. So, kita sudahi dulu kemelow-an yang gak penting tadi hahaha, mari kita bicara soal Solo bung..!

Kota ini tentu punya sejarah tersendiri, yang rasanya gak perlu saya ulas di sini, karena sekali klik di google juga selesai hahaha.

Saya hanya ingin membuat satu catatan pribadi, tentang kesan dan pesan yang saya petik saat mengunjungi Kota, yang dulunya merupakan pusat Kasuhanan pecahan dari Mataram tahun 1755 ini.

Tapi kita akan sedikit bergeser dari pusat Kasunanan Solo, tepatnya menuju Kabupaten Karanganyar, dimana para raja-raja Kasuhanan Solo dimakamkan. Karena tepat di bawahnya, juga terdapat Astana Giri Bangun, yang merupakan komplek makam Alm. Ibu Tien Suharto bersama keluarga.

Mendiang memang masih memiliki trah Kasuhanan Solo, sehingga makamnya pun mendapat posisi istimewa.

Hening, begitu kesan pertama yang kami dapat, saat menginjakkan kaki di komplek makam keluarga besar mantan Presiden RI Suharto ini.

Akses jalan hanya ada satu untuk menuju bagian puncak Astana Giri Bangun, itupun kendaraan harus parkir sebelum area makam, selebihnya berjalan kaki.

Tapi tenang, suasananya di sini menurut saya benar-benar menenangkan. Selain karena udaranya yang sangat sejuk, juga karena pemandangan alam yang kita dapatkan benar-benar memanjakan mata.

Langsung menuju pusat Astana Giri Bangun, adalah komplek makam Alm Presiden Suharto dan keluarga. Posisi makam ini berada dibawah Astana Mangadhek, yang berada di puncak tertinggi bagian bukit, emm saya lupa nama bukitnya.

Catatan perjalanan tentang ini, sudah saya ulas sebelumnya, jadi mari kita fokus pada salah satu kesan yang saya tangkap, yakni ketenangan.

Terlepas dari berbagai hal mistik yang banyak menjadi perbincangan publik, bagi saya mengunjungi Astana Giri Bangun, memberikan satu hikmah tersendiri, yakni kebahagian berupa ketenangan, yang tak akan kita dapatkan di Kota, yang penuh riuh kehidupan.

Memang ketenangan juga bisa kita dapatkan di pedesaan ataupun pegunungan, atau di tengah perjalanan seperti yang saya lakukan saat turing melintasi wilayah pedesaan.

Tapi di sini, selain ketenangan, kita juga bisa mendapat banyak referensi sejarah tentang perjalanan salah satu bukti kekayaan budaya Indonesia, serta kejayaan masa pemerintahan Presiden Suharto sata membawa Indonesia swasembada pangan, serta terlepas dari berbagai krisis di masanya. Tentu, semuanya terlepas dari seluruh pro dan kontra yang dimiliki oleh sosok Suharto.

Astana Giri Bangun maupun Astana Mangadhek, merupakan salah satu bukti eksistensi Kasuhanan Solo yang tak lekang termakan zaman, meski saat ini eksistensi pemerintahannya tidak seperti dulu.

Keheningan suasana di sini juga menjadi pengingat, bahwa pada akhirnya semua pencapaian hidup manusia, akan berakhir di rumah tinggal selanjutnya setelah hidup, yakni tanah.

Siapapun dan apapun diri kita, pada akhirnya hanyalah tanah yang belum tentu akan dikenang baik oleh sejarah, seberapa keras pun kita mencoba menunjukkannya.

Jadi tak ada gunanya berharap pujian dan sanjungan, karena yang kekal sebenarnya adalah apa yang akan kita hasilkan dan bermanfaat tidaknya bagi orang dan generasi setelah kita.

Wah ini tulisan soal apa lah ya, ngalur ngidhul ra jelas hahaha, ya namanya lagi kurang sehat karena sudah lama gak piknik.

Jadilah saya ngalur ngidhul sendiri, sambil berandai andai memikirkan transportasi apa yang bisa saya gunakan menuju Kota Solo. Tapi kali ini beda, saya gak bisa jalan-jalan sendiri melainkan harus bersama istri dan anak, jadi sepertinya opsi turing dengan motor harus dicoret dulu.

Jadilah saya coba-coba cari tiket online di google, dan untuk menyesuaikan kondisi ransel saat ini, saya langsung hunting tiket bus.

Walaa..saya surprise saat menemukan begitu banyak alternatif tiket murah, di salah satu layanan tiket online. Saya kira situs itu cuma nyediain tiket pesawat, rupanya bus pun juga ada broh.

Harganya itulah, asli kok lebih murah dibanding kita beli ke loketnya langsung ya, terus kita bisa pilih jadwal dan terminal keberangkatan. Buat yang penasaran dan mau ikutan cek harga tiket bus Jakarta Solo, mari sama-sama kita berburu diskon hehehe. Sampai ketemu di lokasi liburannya guys…

Bagikan ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.