Benteng Coa Sako, Jejak Inggris di Jalur Liku Sembilan

Pintu masuk ke Benteng Coa Sako di Jalur Liku Sembilan Bengkulu – Kepahiang.

Jalanjalankitadotcom – Mungkin bagi Anda yang sudah sering berlalu lalang melintasi jalur Liku Sembilan Bengkulu – Kepahiang, tak mengira bila di jalur lintas strategis tersebut terdapat salah satu peninggalan kolonial Inggris.

Bisa jadi kurang termasyur dan tersohor layaknya Benteng Malborough, karena memang ukurannya yang jauh dan sangat berbeda alias sangat kecil.

Adalah Benteng Coa Sako, demikian warga Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah menyebutnya.

Benteng kecil yang lebih mirip bunker pertahanan berbentuk bangunan permanen ini, berada di sekitar kilometer 35 jalur Liku Sembilan.

Salah satu ciri penanda lokasi ini, adalah keberadaan sebuah tugu kecil di sisi sebelah kiri jalan, bila kita dari arah Kota Bengkulu.

Tugu kecil penanda lokasi Benteng Coa Sako di Jalur Liku Sembilan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Dinamakan Coa Sako, karena menurut warga sekitar penemuan benteng ini sama sekali diluar perkiraan atau sama sekali tak terduga.

Coa Sako merupakan bahasa dialeg Rejang, dengan arti Coa adalah Tidak dan Sako adalah Sangka, sehingga arti keseluruhannya kurang lebih Tidak Disangka.

Wajar saja sepertinya bila warga menamakan benteng tersebut demikian. Selain karena lokasinya yang tersembunyi di balik bukit, posisi pintu masuk ke benteng ini juga cukup tersembunyi dan tidak akan terlihat bila saja kawasan sekitarnya tidak dibersihkan.

Titik lokasi benteng ini bisa dicapai sekitar 50 menit perjalanan darat dari Kota Bengkulu, atau sekitar 20 menit dari Kabupaten Kepahiang.

Ane sendiri baru mengetahui adanya benteng ini, setelah bertahun-tahun melintas hilir mudik Bengkulu – Kepahiang wkwkwk, parah gak nyadarnya ini hahaha.

Bentuk benteng ini sih sebenarnya sederhana banget ya, kotak persegi berukuran sekitar 3×7 meter gitu, dengan satu akses pintu masuk yang hanya pas dilintasi untuk satu orang.

Hanya saja namanya orang Inggris, struktur sederhana bangunan ini didukung oleh posisinya yang terkamuflase dengan bukit serta jurang.

Belum lagi lebatnya vegetasi hutan di lokasi ini, menjadikannya sangat sempurna sebagai titik pertahanan sekaligus pencegatan konvoi pasukan yang melintas kala itu.

Lokasi Benteng ini juga sangat strategis, karena berada di jalur lintas satu-satunya menuju Kota Bengkulu dari arah Kepahiang dan Sumatera Selatan ataupun sebaliknya kala itu.

Ane dan beberapa rekan akhirnya sepakat masuk ke dalam benteng, yang gelap gulita serta super lembab ini dengan membawa penerangan seadanya dari senter HP yang kami bawa.

Saya dan beberapa rekan saat akan masuk ke dalam bagian benteng melalui akses pintu masuk yang sempit dan hanya satu-satunya.

Begitu masuk, langsung terasa bila benteng ini memang sama sekali tak dipelihara apalagi ditata oleh pemerintah. Di sekitar lokasi juga tak nampak plang merek cagar budaya, yang menandakan benteng ini tak masuk kategori benda peninggalan sejarah yang dilindungi pemerintah.

Perasaan kami langsung tersentak, saat tiba-tiba suara kepakan sayap kelelawar saling bersaut dari dua sisi ruangan benteng. Puluhan kelelawar ini langsung berebut keluar, begitu menyadari keberadaan kami.

Selain bagian lantai yang licin karena tertutup lumpur yang becek, tumpukan sampah juga tampak teronggok di beberapa sudut ruang benteng.

Pada bagian dalam, penerangan sepenuhnya hanya bergantung dari cahaya yang masuk dari akses pintu serta dua cerobong sirkulasi di bagian atas benteng. Dua cerobong ini bagian ujungnya bisa kita lihat dari sisi atas bukit.

Penampakan bagian ujung atas dua saluran udara yang terlihat dari luar benteng Coa Sako.

Tinggi ruangan sendiri tak sampai 2 meter, atau persisnya sekitar 170-180 centimeter. Bisa jadi juga ukuran ini berkurang karena banyaknya timbunan tanah pada bagian lantai yang terlihat sama sekali tak pernah dibersihkan.

Tak banyak sisi lain benteng yang bisa kami eksplore. Ini juga karena memang referensi sejarah terkait benteng ini sangat minim.

Tidak ada sumber pasti yang bisa menjelaskan tahun berapa benteng ini dibangun oleh Inggris, dan digunakan seberapa lama.

Hemmm kayaknya akan lebih lengkap bila pembaca yang penasaran, melihat langsung kondisi benteng ini dalam vlog berikut ini.

Bagikan ke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*