Fort Marlborough, Benteng Terkuat Inggris Setelah Madras India

Benteng Marlborough tampak dari salah satu sudut akses masuk utama. Benteng Marlborough sendiri bila dilihat dari sisi bagian atas bentuknya mirip dengan bentuk kura-kura.

jalanjalankitadotcom – Bagaimana kabarnya bro … banyak kisah seru liburannya di hari kemerdekaan lalu? Yuk bagi-bagi dunk ceritanya lewat tulisan dan hasil jepretannya πŸ˜†Β  πŸ˜€Β  😎  πŸ˜†Β 

Ini ane sudah cukup lama absen ngeblog, sok sibuk sendiri akhir-akhir ini hahaha. Syukurnya sih ketemu sama eventnya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi dan Media Center Pemprov Bengkulu, yang menghelat Jejak Warisan Budaya Bengkulu, di Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Marlborough. 😎  😎 

Jadi aman deh suplai bahan tulisan ane dua pekan ini hehe. Yups, kita langsung ke bahasan sob, kali ini kita bahas sekelumit kisah tentang salah satu Benteng pertahanan milik Inggris di era kolonialisasi tempo dulu, yang disebut-sebut menjadi salah satu benteng terkuat di wilayah timur setelah Fort St. George di Madras India.

Fort Marlborough atau Benteng Marlborough, menjadi salah satu salah satu saksi sejarah, jaman keemasan lada dan rempah-remah, yang menjadi buruan bangsa-bangsa Eropa di masa lalu.

Komoditas lada, cengkeh dan lainnya, dahulu memang begitu diburu oleh negara-negara Eropa, karena nilai ekonomisnya yang begitu tinggi.

Terlebih sebelumnya, bangsa-bangsa Eropa yang mendapat suplai rempah-rempah dari bangsa-bangsa Arab, sama sekali tak mengetahui bila rempah-rempah yang mereka terima sebenarnya berasal dari timur jauh.

Setelah mengetahui wilayah-wilayah penghasil rempah-rempah, bangsa-bangsa Eropa lantas berlomba-lomba melakukan ekspedisi dan penaklukan ke wilayah timur jauh termasuk nusantara atau saat ini Indonesia.

Kantor East India Company (EIC) di Benteng Marlborugh. EIC sendiri merupakan kongsi dagang setengah pemerintah milik Inggris, yang menjadi salah satu alat perluasan jajahan dan kolonialisasi Inggris ke berbagai belahan dunia.

Inggris melalui kongsi dagang East India Company (EIC) sendiri tiba di Bengkulu sekitar tahun 1685, setelah sebelumnya singgah di Aceh dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni untuk mendirikan kantor dagang.

Setelah gagal dengan upayanya di Aceh, Inggris kemudian berlabuh di Bengkulu dengan membawa misi serupa, mendirikan kantor dagang demi memuluskan pasokan rempah-rempahnya.

Bengkulu sendiri saat itu merupakan salah satu penghasil cengkeh, meski tidak semelimpah wilayah Indonesia Timur.

Tahu tidak guys, bila sebenarnya Benteng Marlborough bukanlah benteng pertama kali dibangun Inggris saat tiba di Bengkulu?

Saat tiba di Bengkulu, Inggris (EIC) langsung membuat perjanjian dengan raja-raja di Bengkulu (Traktat York) yang salah satu kesepakatannya, memperkenankan Inggris untuk membuka kantor dagang sekaligus bangunan Fort York.

Nah pendirian Fort York ini diijinkan di kawasan tepian aliran Sungai Bengkulu, yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan Pasar Bengkulu Kecamatan Teluk Segara.

Namun berselang sekitar 28 tahun kemudian, Komandan Garnizun Inggris yang bertugas di Bengkulu saat itu yakni Joseph Callet, melapor ke Madras India bila keberadaan Fort York tidak menguntungkan dan kurang strategis.

Salah satu lukisan yang berada tak jauh dari akses masuk ke sel tahanan bawah tanah di Benteng Marlborugh.

Setelah itu, diputuskanlah bila EIC akan mendirikan bangunan benteng di lokasi lain, yang sebelumnya diusulkan Joseph Callet di wilayah ujung karang atau lokasi Benteng Benteng Malborough saat ini berdiri.

Pembangunan Benteng Malborough kemudian dimulai pada tahun 1713 Masehi, yang saat itu langsung dikomandoi Joseph Callet.

Pendirian benteng ini tidak berjalan mulus, dan sempat terhenti selama beberapa tahun, salah satunya karena serangan wabah penyakit yang menimpa para pekerja pun termasuk para personel EIC, hingga serangan rakyat Bengkulu yang berhasil membakar seluruh komplek Benteng dan memaksa para penghuninya mengungsi ke Madras.

EIC yang kembali pada 1724, kembali harus menghadapi serangan pribumi di tahun 1793 yang menewaskan Robert Hamilton, lalu tahun 1807 serangan rakyat Bengkulu menewaskan Residen Thomas Parr.

Benteng Marlborough kemudian beralih ke tangan Hindia Belanda pada tahun 1825-1942, lalu Jepang antara 1942-1945.

Pada masa perang kemerdekaan, Benteng Marlborough kemudian menjadi markas Polri, namun di tahun 1949-1950 kembali diduduki Belanda melalui agresi militer, sebelum akhirnya kembali ke tangan Indonesia di tahun 1950.

Meriam-meriam peninggalan Kerajaan Inggris yang masih tersimpan di komplek Benteng Marlborough.

Saat itu Benteng Marlborugh sempat dijadikan markas TNI AD hingga 1977, sebelum akhirnya diserahkan ke Depdikbud untuk proses pemugaran sebagai bangunan cagar budaya.

Salah satu hal menarik dari proses pembangunan Benteng Marlborough, adalah adanya cerita tentang masuknya untuk kali pertama alat musik dol, yang dibawa oleh para pekerja asal India.

Saat itu, alat musik dol yang saat ini menjadi salah satu alat musik tradisional dan paling dikenal masyarakat Bengkulu, dulunya digunakan untuk menghibur para pekerja maupun masyarakat saat peresmian Benteng.

Nah Guys, ulasan historisnya hingga di situ dulu ya. Kini kita melihat kondisi terkini Benteng yang berbentuk mirip seperti kura-kura bila dilihat dari atas ini.

Tidak jauh dari akses gerbang masuk pertama dari bagian depan tepatnya di sisi sebelah kanan jalan masuk utama, terdapat 3 makam besar yang merupakan makam Robert Hamilton, Residen Thomas Parr serta Charles Murray.

Tampak bagian halaman utama di dalam area Benteng Marlborough.

Sementara pada bagian utama di halaman dalam Benteng, terdapat belasan meriam besi yang terususun rapi menghadap ke arah samudera, beberapa diantaranya ditempatkan di bagian sudut atas Benteng sebagaimana lokasi aslinya dulu.

Oh iya, pada bagian pintu masuk kedua persis sebelum halaman utama benteng ini, kita akan menemukan gerbang besi dengan desain khusus yang masih tetap kokoh terpasang sampai kini.

Melewati gerbang ini, di sisi kita akan menemukan bangunan putih berbentuk huru L di sisi dalamnya, yang terbagi ke bagian sisi kanan dan kiri.

Untuk sisi bagian kanan, akan tampak deretan celah pintu dengan deretan besi-besi kokoh yang selintas memang mirip sel tahanan. Sementara sisi kiri, bangunan tampak lebih pendek dengan bagian sisi ujungnya terlihat hamparan laut samudera India.

Bangunan ini merupakan bangunan inti benteng Marlborough, dimana dulu EIC memusatkan seluruh aktivitas perdagangan maupun pemerintahannnya.

Di sisi ujung halaman, terdapat bangunan dengan desaian beratap genteng, yang juga merupakan bagian kantor dagang EIC.

Di ruang audio visual yang disediakan BPCB Jambi ini, pengunjung bisa mendapatkan sajian lengkap dalam bentuk video sejarah keberadaan benteng maupun asal muasal kedatangan Inggris ke Bengkulu.

Nah pada bagian bangunan yang inilah, kita bisa lebih lengkap mempelajari sejarah panjang pendirian bangunan, maupun sejarah lainnya dalam sajian audio visual yang lengkap.

Pihak BPCB Jambi sendiri sengaja merenovasi salah satu ruangan di bangunan tersebut, menjadi ruang audio visual yang menjadikan edukasi sejarah kepada para pengunjung bisa dilakukan lebih efektif dan efisien.

Selain ruang audio visual, pada bagian bangunan benteng lainnya terdapat dua ruang pamer utama, yang menyimpan dokumen-dokumen ringkasan terkait perjalanan panjang keberadaan Inggris di Bengkulu, termasuk diorama Presiden pertama RI, Soekarno yang digambarkan tengah berhadapan dengan Residen C.E Maier.

Wah tidak sadar sudah sepanjang ini yah ocehan saya haha…kayaknya memang tidak akan lengkap rasanya guys, kalau kamu tidak datang langsung ke sini untuk menikmati dan mempelajari sendiri kisah-kisah sejarah yang ada di sini.

Ditunggu kiriman foto kalian dengan pose seperti ini yah, jangan lupas tag saya di akun sosmed ya guys.

Apalagi tidak banyak kan peninggalan kolonial Inggris saat menjajah Indonesia, karena memang saat itu yang lebih mendominasi adalah Belanda, kecuali wilayah bagian timur dan Bengkulu tentunya.

So, ditunggu ya kunjungannya langsung ke BengkuluΒ  πŸ˜†Β  πŸ˜†Β  πŸ˜‰Β  πŸ˜‰Β  😎

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #NulisSerempak #bloggerbengkulu dengan tema #WarisanSejarahBudayaBengkulu

 

Bagikan ke

24 thoughts on “Fort Marlborough, Benteng Terkuat Inggris Setelah Madras India

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*