Ke Masjid Agung Palembang, Eh Tapi Bukan Masjid nya

Brievenbus yang berada di salah satu sudut teras utama Masjid Agung Palembang atau Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudin I..

jalanjalankitadotcom – Haiiii …. Kota pempek Palembang… akhirnya kita berjumpa untuk kali pertamanya, dan udara pagi ini sejuk sekali.

Rasa dinginnya bahkan masih berasa, meski waktu sudah nunjukin hampir pukul 08.00 WIB. Yah gimana mau anget, mataharinya masih malu-malu menampakkan diri dari celah-celah awan tebal yang menggantung di atas sana.

Tapi bisa jadi rasa dingin ini karena perut kami yang memang belum terisi, sedari menikmati perjalanan darat dari Bengkulu malam tadi sih. Karena begitu tiba di Kota pempek Kapal Selem yang terkenal ini, kami bukannya langsung check in hotel, tapi malah milih nitipin barang dan kelayapan mumpung acaraย  masih lama dimulai wkwkwk…dasar gembel jalanan gak puas-puasnya kelayapan hahaha.

And … yap, kami yang lebih dari sepuluh orang ini, akhirnya mutusin buat jalan kaki, dengan target utama nanti akan menyapa si merah Jembatan Ampera, wah secara itu maskot utamanya Kota Palembang kan.

Jadilah kami akhirnya dengan raut muka kucel dan aroma mobil travel yang masih melekat, dengan pedenya menyusuri lorong-lorong tak jauh dari Palembang Indah Mall (PIM), dengan tekad menemukan harta karunnya wong Palembang yang beken-beken itu.

Tapi godaan aroma kuah lontong dan kopi hangat dari sebuah lesehan di sudut gang, akhirnya menggoyahkan pendirian kami yang akhirnya kompak langsung berbelok, yah dasarnya laper dan kedinginginan guys hahaha, masa masih pake jaim pula hahaha.

“Mak, kopi itam samo lontong gulai nangko yo, kasih gorengannyo yo mak jangan lupo,” langkah gesit salah seorang rekan saya mendahului order ke sang pemilik lesehan.

Wah urusan makan gak mau kalah banget nih orang hahahaa….dan kami pun satu persatu memesan menu masing-masing, dengan minuman utama, kopi hitam panas. ๐Ÿ˜€ย  ๐Ÿ˜€

Puas dengan semua obrolan pagi yang sudah ngalur ngidul sana sini menemani suap demi suap lontong yang akhirnya tak bersisa, kami pun langsung bergegas.

Nah ini sedikit sudah lebih baik penampakan wajah orang-orangnya setelah menyeruput Kopi dan nelan lontong Palembang hahaha.

Begitu tiba di jalan protokol utama Kota ini, kami sedikit tertegun dengan sederet material dan pancang-pancang beton yang terpasang belum sempurna di tengah-tengah jalan tersebut. Rupanya inilah yang dibilang orang-orang sebagai proyek monorelnya Palembang itu.

Wah keren ya Palembang, langsung buat terobosan sarana transportasi model gini, sementara Jakarta aja masih sibuk ribut sana sini ampe proyeknya malah mangkrak (gumam ku dalam hati).

Tapi kami tak mau berhenti di situ, karena di kejauhan sudah nampak sebuah bangunan khas, yakni Masjid Agung Palembang yang dulunya bernama Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudin I.

Masjid Agung Palembang dilihat dari sisi bagian taman masjid yang luas.

Wajar sih bila salah satu bangunan bersejarah ini begitu menyita perhatian pengunjung, karena memang posisinya sangat strategis dan diapit jalanan protokol utama Kota Palembang.

Dan ini dia buruknya gerombolan ane hahaha…begitu melihat ada akses masuk menuju area masjid, mulailah kami saling mendahului untuk jadi yang paling awal sampai.

Ehh tapi bukannya masuk berniat untuk sholat sunnah, ini rupanya pada berebut duluan karena mau ke toilet rupanya…wahhh biasa kualat nih lama hahahaha.

Dan disinilah moment istimewa itu saya temukan. Saat menyapu pandangan ke sekeliling area masjid, pandangan saya tersangkut pada sebuah bangunan unik yang sangat berbeda dengan struktur bangunan masjid ini.

Nah penampakan di bagian pojok itu baru ane sadari setelah beberapa kali jeprat jepret.

Terus secara ukuran dan posisinya juga cukup aneh. Ukurannya gak besar, tapi ini bangunan permanen yang tertanam kokoh ke dalam tanah oleh pondasinya.

Lebih aneh sih menurut ane, karena posisinya itu di salah satu sudut teras utama masjid. Dan yang bikin aneh lagi, ada beberapa tulisan dengan bahasa-bahasa yang beda banget gitu.

Pertama di bagian atas ada tulisan “Brievenbus”, terus dibawahnya ada tulisan “Buslichting” dengan deretan simbol dan huruf 1 hingga 3.

Dibagian bawahnya, ada tulisan “masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesdjid”.

Wah ini ejaan lama nih, ejaan Repoeblik alias ejaan lama nih pikir ane.

Tulisan “Buslichting” yang menerangkan jadwal pengambilan surat-surat yang diletakkan dalam Brievenbus. Penggunaan Brievenbus sendiri dilakukan Belanda di Indonesia sejak tahunย 1829 di kantor pos Batavia.

Sementara pada bagian sisi belakang tulisan buslichting tadi, ada semacam lubang anak kunci dengan dibawahnya ada semacam gelang untuk pegangan penarik.

Nah yang bikin bingung itu, di sisi lainnya ada tulisan Indonesia berejaan EYD. “Kotak Amal Masjid Agung”.

Hemm ini rupanya, ini kotak amal toh intinya, ohh githu ya yaya… saya mengerti (gumam saya dalam hati).

Ehh wait ..! tapi kok tulisannya banyak jenisnya githu yah, wah ini mah gak lumrah alias gak umum nih ane simpulin.

Bertanyalah ane pada rekan-rekan serombongan, sayang jawabannya belum ada yang paripurna sob.

Jadilah saya iseng-iseng nanya mbah gugel, dan tara, rupanya si Kotak Amal ajaib ini, punya sejarah cukup panjang dan jadi salah satu bukti “ketidak-amalannya” si Kompeni Belanda hahaha.

Wal ikhwal ini rupanya bangunan peninggalan si Londho Belanda coy haha..

Bagian lubang anak kunci untuk membuka Brievenbus dan mengambil surat-surat yang akan dikirimkan.

Jadi ringkasnya gini, merujuk pada tulisan paling atas tadi, Kotak ini sejatinya awalnya dulu adalah Kotak Pos nya Belanda, yang dalam bahasa Belanda disebut “Briebenbus” yang kurang lebih berarti mailbox alias kotak pos alias juga kotak surat, begono..

Brievenbus atau bis surat, memang kali pertama digunakan Belanda di Batavia sekitaran tahun 1829, atau beberapa tahun sejak kedatangan Belanda ke nusantara sekitar tahun 1602 silam.

Sejak itu, penggunaan Brievenbus mulai menyebar ke beberapa wilayah lain oleh Belanda.ย  Penggunannya untuk umum sih dibuka sejak tahun 1850 di Semarang dan 1864 di Surabaya.

Untuk tulisan Buslichting merupakan keterangan dari jadwal pengangkatan bus/surat yang dijelaskan dengan angka 1,2 3 yang mengartikan bila surat-surat yang ada di dalamnya akan diangkat 3 kali dalam sehari.

Di bagian paling bawah lagi, sebenarnya ada lagi sebuah ukiran bulat yang belum juga apa artinya. Bisa jadi itu logo atau apa githu kali yah.

Hanya saya entah bagaiamana akhirnya, Brievenbus ini penggunaannya dialihkan menjadi kotak amal masjid. Kan secara kotak amal masjid ini berisi uang, dan seringkali jadi incaran-incaran tangan-tangan jahil yah.

Atau karena memang sistem kunci yang digunakan ini terbukti kuat dan ampuh kali ya, sehingga pengurus masjid tak khawatir sumbangan jemaah tak akan hilang.

Nah begitulah potongan cerita aneh yang ane temukan saat mengawali kunjungan di Kota Palembang. Saat itu ane sendiri malah gak sempat masuk ke bagian dalam masjid, dan cuma sampai di bagian teras untuk sekedar berpose bersama.

Maklum niatnya pengen langsung ke Jembatan Ampera, sebelum nanti check in ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya.

Nah buat sobat traveler yang nanti kemari, jangan ditiru yah ulah kami-kami ini hahaha. Kalo sudah sampe di Masjid Agung Palembang, bagi kamu yang muslim sempetin deh menunaikan sholat sunnah di dalam masjidnya, biar makin berkah githu hehehe.

Eh bicara soal penginapan alias hotel selama di Kota Palembang, sangat direkomendasikan sih cari yang tak jauh dari lokasi jembatan Ampera.

Airy Rooms

Karena boleh dibilang di sini sebagai salah satu titik strategis perjalanan wisata kita di Kota Palembang sob, mau ke wisata kuliner di kawasan ini ada begitu banyak, ke Benteng Kuto Besak, trus juga dekat dengan Museum Sultan Madmud Badarudin II, Museum Bahari, Pasar 16 Ilir hingga pusat oleh-oleh pempek.

Dan urusan mencari hotel, ada baiknya booking dulu sebelum ke Palembang untuk mendapatkan room idaman yang diinginkan, berikut harga nya yang paling terbaik namun dengan kualitas yang OK punya.

Nah urusan booking hotel gini, kalo kami sih udah kadung nyaman sama Airy Rooms, selain bisa kasih pilihan-pilihan harga yang jauh lebih murah dengan kualitas yang sama, jaringannya juga sudah sangat luas di Indonesia, mau hotel ada, mau guest house ada.

Airy Rooms at Airy International Plaza Kolonel Atmo 16 Palembang.

Sementara soal kulitas layanan, wah standarnya loe pasti udah tahulah OK punya kan. Dari sederet fasilitas wajib dalam list para traveller itu, mulai dari shower air hangat, air minum gratis, perlengkapan mandi, yang sangat terpenting itu tentu wifi gratisnya sob hehehe. Ini sih pertanyaan wajib pertama ane saat akan booking hahaha, kalo gak ada, ane pasti mikir ulang berkali-kali buat deal.

Kenyamanan lainnya itu untuk urusan booking, bisa kita lakukan lewat laman website, android maupun iOS Apps. Dan urusan bayarnya, bisa via transfer bank atau juga kartu kredit.

Airy Rooms.

Yang lebih ok itu, karena letak Airy Rooms di Kota Palembang ini sangat dekat dengan Jembatan Ampera, jadi kalopun kita baru pertama kalinya datang di Kota Palembang, dijamin gak akan susah buat jalan-jalan apalagi tersesat sob, secara saat ini semua serba tinggal buka aplikasi maps toh.

Terlebih buat para sobat traveller, urusan harga dan kualitas ini kan jadi prioritas nomor satu dari sekian banyak list pertimbangan. Rugi banget kan sudah bayar mahal-mahal, ehh layanan room nya malah mengecewakan dan gak strategis pula lokasinya.

Dari sepengetahuan ane sih, setidaknya ada dua Airy Rooms Hotel yang berada di begitu dekat dengan Jembatan Ampera dan sejumlah titik wisata lainnya ini, yakni Airy Internasional Plaza Kolonel Atmo 16 dan Airy PIM Letkol Iskandar I Palembang.

Nah Guys, biar liburannya nyaman dan berkesan, Airy Rooms ya pilhan utama menginapnya.

Nah biar gak ribet, mending booking Airy Rooms pake aplikasi androidnya, terus langsung search room yang diinginkan berikut alternatif harga-harga terbaik yang disajikan.

Dengan begitu traveling kita akan makin oke punya. Setelah lelang seharian melalar kesana kemari, kita bisa istirahat dan bangun dalam kondisi segar bugar. Luar biasa toh…so kalo sobat gak sengaja ketemu kita di jalanan, jangan lupa sapa yah….see uu….

(Prio Saja)

Bagikan ke

24 thoughts on “Ke Masjid Agung Palembang, Eh Tapi Bukan Masjid nya

  1. Mana foto kopi dan lontongnya? Penasaran..he

    Unik ya, masjidnya. Dan itu tulisan-tulisan itu baru lihat aku.he
    Gak bisa baca ๐Ÿ˜€
    Masih awet ya, benda peninggalan Belanda itu..

    Mungkin selain sistem kuncinya terbukti kuat, bisa juga para masyarakat disitu tahu kalau mencuri itu dosa. Dan tak adalah yang berani ambil ๐Ÿ™‚

    Pengen deh kalau mampir kesitu, bisa shalat berjamaah ๐Ÿ™‚
    Dan, aku setuju kalau boking lewat smartphone aja, kan udah jelas kosong tidaknya, dan harganya juga..

    1. kopi dan lontongnya dah ketelen duluan bang wkwkwk…jdi yg difotoin akhirnya yg nelen si lontong nya aja hahaha

      iya itu buatan si kompeni kok ya awet banget githu ya, luar biasa kualitas bahannya

      sepakat om, pesan via smartphone aja, biar gak rempong, lagian jgn sampe salah harga wkwkwk

  2. jujur aja, ngeliat ejaan lama jadi kepikiran. Kenapa sekarang ga di pelajari sama anak-anak sd ya? kaya huruf sunda atau jawa. Kok sedih, karena kemungkinan bakalan kegerus waktu, takut punah ๐Ÿ™

    btw, jadi kepengen suap-suap lontong ๐Ÿ˜€

    1. siaappp…klo soal ejaan lama sih bisa jadi githu ya, klo dipake pasti munculin romansa2 yg gmn githu hehee…seolah kita pengen kembali ke jaman doeloe. Tapi soal huruf sunda atw jawa, keknya harus tetap dilestarikan apapun yg terjadi, dlu waktu saya SD di Jawa Timur, saya sempat dpt pelajaran bahasa jawa, tpi sekarang yg saya inget cuma pengucapannya, tpi hurufnya udah 99 persen saya lupa wkwkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*