Kopi Bengkulu, Perawan Yang Belum Bersolek

Salah seorang barista sedang demonstrasi meracik kopi dalam Coffee Festival yang digelar di Bengkulu Sabtu (22/7) lalu. (foto by media center Pemprov Bengkulu)

jalanjalankitadotcom – Festival Bumi Raflesia, baru saja dihelat sejak Jumat 21 Juli lalu, dan resmi ditutup pada Ahad 23 Juli 2017 ini. Sejumlah kegiatan digelar dengan satu tujuan besar, menasionalkan potensi wisata, baik alam maupun kuliner yang ada di Bengkulu.

Karena yang ingin diperkenalkan ini tak hanya satu objek, maka pemerintah daerah Bengkulu pun mengemasnya dalam beberapa agenda kegiatan berbeda selama 3 hari berturut-turut.

Hari pertama ada Famtrip, yang melibatkan puluhan blogger khususnya travel blogger (termasuk Blogger Bengkulu alias BOBE sih pada akhirnya hahaha).

Wah ane langsung capek 3 paragraf berjuang nulis formal-formal githu haha, gua pake bahasa ngalir aja ya vroh, biar gak kelu lidah ndeso saya ini hahaha.

Jadi gitu intinya, ada beberapa agenda kegiatan berbeda selama 3 hari itu, dan hebatnya lagi ane absen di semua titik kegiatannya. Lah eventnya kok ya pas banget ama acara resepsi nikahan adik ipar, yah apa boleh baut, family is everithing sob kalo bahasa dusun kami tuh wkwkwk.

Jadilah ane dan istri akhirnya memantau setiap update baik foto maupun beritanya dari media dan sosial media.

Salah satu agenda yang bikin ane tertarik, adalah Festival Kopi yang dihelat pada Sabtu (22/7) siang di arena pameran di Sport Center Pantai Panjang.

(Baca juga: Kopi Redjang, Persilangan Arabusta Dari Bengkulu)

Tentunya selain kehebohan lomba triatlone yang kece itu sih hehe, tapi ane belum dapet stok fotonya buat yang itu, jadi artikelnya yang itu nyusul aja kayaknya.

Nah balik soal festival kopi, ane sih niatnya dari awal mau ngincer salah satu brand kopi lokal asal Lebong, yakni Kopi Mangkuraja.

Meskipun ane dah beberapa kali nyobain sajian kopi arabika dari Kepahiang maupun Curup, tapi ane tetap penasaran ama hasil produk kopi Arabika yang ditanam di Lebong guys.

Secara kondisi alamnya jauh berbeda, selain lebih dingin, kopi mangkuraja ini juga gak banyak beredar kayak kopi-kopi arabika daerah lain (mungkin ane saja yang kurang beruntung kali ya).

Dan karena jam agenda eventnya itu pas banget sama jam deadline kerjaan di kantor, jadilah akhirnya ane cuman numpang ngiler dari cerita si kameramen ama si reporter yang turun ke lokasi event.

Yah ngilernya masih selamat dah karena masih bisa liat video-videonya langsung yang masih utuh belum kena dubbing jeng UngDew ataupun mak Din haahha.

But di situ rasa sedihnya sob, bukan apa, perasaan kok sepi gila yah festival kopinya, jauh banget dari ekspektasi kita para blogger lokal atau mungkin dari panitia sendiri.

Hal ini terlihat dari sedikitnya peserta yang hadir saat workshop kopi ini digelar Sabtu (22/7) siang ampe sore githu.

Mungkin karena dihelat dalam cuaca masih panas githu kali ya, secara kawasan Sport Center kan emang puanas poll, satu sisi ada di tepi laut sisi lainnya itu seluas luasnya lapangan itu juga jauh dari pohon perindang.

Mungkin bila digelar sore atau malam, wah pasti keren dan rami diserbu muda mudi, secara kan weekend.

(Baca juga: Ini Dia 7 Oleh-oleh Kuliner Wajib dari Bengkulu)

Ini kayaknya bagus yah buat masukan penyelenggaraan ke depan, karena event di hari dan jam kerja, terbukti sangat tidak efektif buat kita di daerah seperti ini.

Dan memang habbit orang Bengkulu itu, kebiasaan nongkrong dan halan-halannya itu mulai sore hari di setiap weekend.

But, terlepas dari semua persoalan itu guys, tetap event yang digelar pemerintah ini wajib kita dukung toh, karena imbas positifnya pasti akan sampai ke rekan-rekan petani lokal maupun para penggiat industri kreatif olahan kopi di Bengkulu.

Dan ini kata owner perkebunan dan industri kopi asli desa Mangkuraja Kabupaten Lebong, yakni Moenarji Soedargo pemilik dari PT Indo Arabica Mangkuraja.

“Kopi sangat erat dengan kepariwisataan, karena membawa relaksasi bagi wisatawan saat bersantai dan menikmati liburan. Hanya saja pengembangan industri kopi itu luas sekali aspeknya karena juga terkait masalah sosial.” terang Moenarji usai workshop yang digelar di Sport Center pada Sabtu (22/7) siang.

Para pemenang Festival Kopi berpose bersama usai penyerahan piala dan hadiah. (foto by media center Pemprov Bengkulu)

Kalo diistilahkan, kopi Bengkulu itu ibarat perawan yang sama sekali belum bersolek alias masih natural dan apa adanya banget. Bayangin sob, belum diapa apain aja dah cukup terkenal githu kan, pegimana kalo udah didandani dan disolek sedemikian rupa.

Nah sobat traveller, maaph yah kalu ngalur ngidhul sekali ini, gak apalah sesekali kita sumbang saran dan kritik toh hehehe. Laguan gua cinta banget ma nih daerah sob, secara istri gua juga orang sini kali yah wkwkwk.

Jadi intinya kita kali ini ngeluarin unek-unek dan saling sumbang saran dulu ya, biar para pengambil kebijakan kita dapat masukannya super komplit hehehe.

“Petani kopi kita itu punya kultur perkopian yang kental banget, tinggal bagaimana bisa dieksploitir ke arah yang tepat, agar tak menghasilkan produk yang mainstreem ataupun umum. Harus pula dilihat bagaimana mengembangkan produk yang spesialty, bisa produksi fine robusta, khusus dari daerah dataran tinggi. Petani tradisional kita harus jadi petani modern, perlu campur tangan pemerintah dengan lokomotif para pemuda yang menggeluti dunia industri kopi.” imbuh Moenarji panjang lebar menjelaskan keyakinannya akan potensi kopi Bengkulu.

“Robusta kita itu menjanjikan, karena dihasilkan di dataran tinggi, sehingga kualitas dan cita rasanya jauh lebih baik, apalagi bila diolah dengan cara yang tepat dan cermat.” pungkasnya menutup obrolan soal jenis kopi robusta Bengkulu yang sangat menjanjikan.

Ia juga makin yakin, karena dari pengalamannya mengembangkan varian kopi arabika di dataran tinggi Kabupaten Lebong, hasil yang diperoleh menurutnya juga sesuai yang diharapkan. Tentunya dengan kontrol dan teknik pengembangan tanaman yang modern.

Daftar Juara dalam Bengkulu Coffee Festival 2017:

Kategori Arabica Cupping

  1. Novri dari Mojorejo
  2. Sumber Sari
  3. BMC Coffee

Kategori Robusta Cupping

  1. Rindu Hati
  2. Sintaro dari Ikola Coffee
  3. Naga Rantai
  4. Mangkuraja
  5. Bagus Coffee

Kategori Espresso

  1. Arizon

Kategori Latte Art

  1. Andri
  2. Rozan

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari Blogger Bengkulu untuk #NulisSerempak tentang #FestivalBumiRafflesia #akubloggerbengkulu.

 

Bagikan ke

20 thoughts on “Kopi Bengkulu, Perawan Yang Belum Bersolek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*