Kutai Ukem, Jejak Majapahit di Tanah Lebong

Kutai Ukem atau Keramat Pat Ukem, berada di Desa Kota Donok Kecamatan Lebong Selatan Kab. Lebong, dan diyakini menjadi salah satu bukti dari jejak Majapahit di Tanah Renah Sekelawi.

jalanjalankitadotcomSob, artikel kali ini terbilang berat buat ane #ceile #nyengatloe :mrgreen:  😆 😀, yang memang sebenarnya bukan seorang traveller sejarah yang kaya akan referensi-referensi catatan peristiwa penting sejarah tanah air hingga hikayat.

Itu mangkanye nih artikel, bahannya ampe ngendap lebih dari satu tahun di folder arsip #parahmen #janganditiru #contohgakbaek, meski ane udah berkali-kali bolak-balik #percayagak?? 😀 😀 cek ricek stok foto ataupun googling untuk mendapatkan referensi online untuk jadi rujukan.

(Baca juga : Astana Giri Bangun, Komplek Makam Presiden Soeharto & Ibu Tien)

Sayangnya ane gak juga nemu yang sohih #yaelah (lu kata hadist ape pake sohih hehehe…yap tapi kekira begitulah pengennya ane sob).

Ane sempet mutusin untuk mengulang berkunjung secara khusus, dan bertanya kepada para sesepuh di sana #macampengembarakali  😀 , ataupun bebarapa ahli waris maupun garis keterununannya langsung. Cuman ya itu vrohh, rencana tinggal rencana, dan jadilah bahan artikel ini ngendap makin lama nyaris kayak lumpur lapindo githu #ngasal (eh lapindo meluber yah? hehe.

And finnaly ane akhirnya mutusin, eksekusi dulu tulisan awalnya, sembari berharap nanti mendapat kesempatan untuk mengulik dan melakukan penelusuran lebih lengkap suatu hari, mumpung-mumpung saya masih bermukim di provinsi tercinta ini, Bengkulu.

Duh berat amat loe curcolnya lae.” 😎  😀  😮

Yah mau pegimana lagi, secara masih terikat kontrak pekerjaan hehehe.’ jawab ane dalam hati #stresskaliniorang 😀  😮  😀 .

Yap, suatu ketika di jaman dahulu kala #gakdink #becandadoank 😀 😀 😆 sekitaran akhir tahun 2015 (duh wes lame pisan itu hahaha), ane yang lagi pura-pura hunting stok dokumentasi spot-spot wisata di Kabupaten Lebong, tanpa sengaja melihat papan merek yang selama ini selalu luput saat ane melintasi jalan CurupMuaraaman.

Kita lompatin aja yuk bagian kronologis nemunya  😀  😆  😮

Bangunan cungkup Kutai Ukem, di sebelahnya terdapat 3 makam yang dipagari dengan besi. Kondisi bangunan ini penuh coretan di sana-sini, dan tampak kurang dirawat meskipun bersih dari tumpukan sampah dedaunan.

Adalah Kutai Ukem atau Biku Bermano, yang rupanya merupakan salah satu situs cagar budaya yang ada di Desa Kota Donok Kecamatan Lebong Selatan, Kab. Lebong Provinsi Bengkulu.

Posisinya berada persis di tepi jalan lintas yang menghubungkan Kota Curup (ibukota Kabupaten Rejang Lebong) dengan Kota Muaraaman (ibukota Kabupaten Lebong). Jarak tempuhnya sekitar 150 KM dari kota Bengkulu, atau hanya sekitar 25 KM dari Kota Muaraaman.

Dari referensi terbatas yang ane dapat sementara ini, Kutai Ukem merupakan salah satu bukti dari jejak para bangsawan Majapahit yang menjejakkan kaki mereka hingga ke Tanah Pat Petulai. Tak hanya itu, keturunan langsung trah raja Majapahit ini, belakangan juga menjadi panutan sekaligus pemimpin masyarakat asli setempat.

Kutai Ukem sendiri diyakini merupakan keramat atau makam dari Biku (Biksu) Bermano. Biku Bermano merupakan satu dari 4 Biku asal Majapahit yang datang ke tanah Renah Sekalawi pada sekitar abad ke-15 (ada juga sumber yang menyebut abad 12-13).

Saat itu, daerah Lebong yang kita kenal saat ini, masih bernama Renah Sekalawi atau Pinang Belapis atau sering juga disebut Kutai Belek Tebo.

Penampakan bagian dalam cungkup Kutai Ukem.

Saat ke-4 Biku tersebut datang ke Renah Sekelawi atau Pinang Belapis atau Kutai Belek Tebo, masyarakat setempat sudah menerapkan sistem Ajai, dimana masyarakat yang bekumpul sudah mulai menetap dan merupakan suatu masyarakat yang komunal, dan sistem pemerintahannya disebut dengan Kutai.

Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kesepakatan antara masyarakat tersebut terhadap hak kepemilikan secara komunal. Semua ketentuan dan praktek terhadap hak dan kepemilikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat dipimpin oleh seorang Ajai.

Pada masa pimpinan Ajai inilah ke-4 Biku atau Bikau, masing-masing adalah Bikau Sepanjang Jiwo, Bikau Bembo, Bikau Pejenggo dan Bikau Bermano datang.

Dari beberapa pendapat menyatakan bahwa para Bikau ini berasal dari Kerajaan Majapahit, namun beberapa tokoh Lebong berpendapat tidak semua Bikau ini bersal dari Majapahit.

Bikau ini diyakini merupakan utusan dari golongan paderi Budha, untuk mengembangkan pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit, dengan cara yang lebih elegan dan dengan jalan yang lebih arif serta mementingkan kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya lokal.

Ke-4 nya kemudian cepat diterima di masyarakat setempat, hingga akhirnya dipilih oleh keempat kelompok masyarakat (Petulai), dengan persetujuan penuh dari masyarakatnya sebagai pemimpin mereka masing-masing.

  1. Biku Sepanjang Jiwo menggantikan Ajai Bitang.
  2. Biku Bembo menggantikan Ajai Siang.
  3. Biku Bejenggo menggantikan Ajai Begelan Mato.
  4. Biku Bermano menggantikan Ajai Malang.

Setelah dipimpin oleh empat Biku, konon Renah Sekalawi menjadi lebih berkembang menjadi daerah yang makmur dan produktif pertaniannya. Di masa inilah, kemudian dikenal aksara Ka-Ga-Nga, yang masih lestari hingga saat ini.

Rindangnya pepohonan pinus, menjadi salah satu ciri utama area Kutai Ukem.

Dan dimasa ke-4 Biku inipula, nama Renah Sekelawi kemudian berganti menjadi tanah Lebong (ini riwayatnya juga panjang gan wkwkw…ane tulis di kesempatan lain yak).

Nah balik ke kondisi keramat Kutai Ukem yang ada saat ini, meski sudah ada pemugaran (pada Agustus-Oktober tahun 2008), namun kondisi komplek Kutai Ukem tetap saja memprihatinkan.

Meski akses jalan dari bagian tepi aspal sudah dibangun dengan anak tangga permanen sedemikian rupa, namun kondisi fisik bangunan keramat ini tampak lusuh.

Sekilas, memang tak sembarang orang diperkenankan masuk ke area utama makam, yang berada di dalam sebuah bangunan cungkup sederhana.

Di luar cungkup, terlihat  ada 3 makam yang ditandai dengan nisan serta pagar berbahan besi. Di masing-masing nisan ini tertera nama namun tanpa tahun, masing-masing adalah Mina Sadikin, Nusah Nikun dan Bikau.

Ane belum memperoleh referensi yang jelas, tentang sosok ketiga orang yang dimakamkan bersebelahan dengan keramat Kutai Ukem tersebut.

Meski terkesan sedikit seram, bila kita menelisik lebih jauh, kita akan menemukan bahwa vegetasi pohon pinus yang ada di sekitaran makam ini, juga dimanfaatkan alias dipanen getahnya oleh warga.

Area masuk ke Kutai Ukem terlihat dari tepi jalan lintas Curup – Muaraaman.

Tampak beberapa sadapan lengkap dengan mangkuk batok kelapa yang dipasang, untuk menampung getah-getah pinus dari hasil sadapan.

Betewe, coretannya ane sambung lagi lain kesempatan yah, ini tumben-tumbennya yak bikin oret-oret sepanjang jiwa hehehe.

(Bila ada masukan untuk koreksi data, baik tahun maupun detil referensi lainnya, mohon ditinggalkan di kolom komment ya guys)

Bagikan ke

8 thoughts on “Kutai Ukem, Jejak Majapahit di Tanah Lebong

    1. hehehe iya mb, soale referensi nya gak banyak soal Kutai Ukem ini. Kalo lagi berburu oleh2 Lemea di Lebong, wajib nih mampir mb, solae dekat dengan lokasi biasa org jualan lemea (dak jauh dari gerbang wisata Tes).

  1. Karena sudah populer, jarang yg tepat menyebutkan ibukota Kab Lebong. Yang benar atau resmi adalah Tubei bukan Muara Aman. Bisa lihat UU No 39 Tahun 2003 ttg pembentukan Kab Lebong dan Kepahiang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*