Pantai Way Hawang, Hikayat Si Pahit Lidah dan Malin Kundang!

Pantai Way Hawang di Kecamatan Maje Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.

JalanJalanKita.com – Cerita pengalaman travelling JJK, kali ini masih masih berasal dari Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu.

Kabupaten di penghujung paling timur Provinsi Bengkulu ini, memang menyimpan segudang pesona wisata alam yang belum banyak terjamah brow.

Happy weekend kita kali ini, masih belum beranjak jauh dari Pantai Linau Kabupaten Kaur yang kita ulas sebelumnya, termasuk sajian kuliner khas kawasan Pantai Linau yakni Sate dan Tongseng Gurita yang sangat sayang bila dilewatkan saat berkunjung ke daerah Kaur.

Adalah Pantai Way Hawang, yang kali ini akan kita ulas ringkas berdasarkan pengalaman langsung JKK (JalanJalanKita.com) yang on location beberapa waktu lalu.

Objek wisata Pantai Way Hawang, terletak di desa Way Hawang Kecamatan Maje Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Lokasi ini berjarak cuma sekitar 10 menit guys dari Pantai Linau, atau sekitar 20-30 menit dari Kota Bintuhan, yang merupakan ibukotanya Kabupaten Kaur.

Peta lokasi Objek Wisata Pantai Way Hawang di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu (Lihat peta lengkap dalam versi google earth di sini).

Lokasi wisata pantai inipun, cuma beberapa ratus meter, dari tepi akses jalan lintas barat (Jalinbar) Sumatera yang menghubungkan Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung – Bengkulu hingga ke sejumlah provinsi di sepanjang pantai barat Sumatera.

(Baca juga : Pantai Linau, Beningnya itu Bikin Kamu Gak Mau Berpaling Sob! )

Keindahan alam di kawasan ini juga tak kalah dengan Pantai Linau, dan malah menyimpan sejumlah nilai plus tersendiri dibanding Pantai Linau. Karena selain pesona alam lewat pasir pantainya nan putih dan menghampar luas, lokasi ini juga menyimpan dua legenda cerita rakyat tersendiri.

Batu Jung, sebuah batu karang di tepi Pantai Way Hawang, yang menyimpan 2 cerita legenda berbeda.

Yap, dari sisi pesona alam, nilai plus Pantai Way Hawang ini mulai dari hamparan pasir putih, lalu kesejukan suasana pantai layaknya suasana di Pantai Panjang, karena di sini juga tumbuh ratusan pohon cemara laut, yang membuat suasana semakin sejuk meski dibawah terik matahari sekalipun.

Pesona alam berikutnya yang sangat utama, adalah objek batu karang besar dengan diameter sekitar 12X5 meter yang berada di gugusan karang, yang disebut masyarakat setempat sebagai Batu Jung. Dan disinilah dua legenda cerita rakyat berbeda itu, menjadi buah bibir dan diturunkan secara turun temurun, sampai ke kita-kita saat ini guys.

Batu Jung, sebuah batu karang di tepi Pantai Way Hawang, yang menyimpan 2 cerita legenda berbeda.

Batu karang yang dinamakan warga setempat sebagai Batu Jung ini, bila dilihat dari salah satu sudut pandang tertentu, dianggap mirip sebuah kapal atau perahu besar yang membatu, lengkap dengan tiang utama kapal, yang sebenarnya merupakan sebuah batu karang yang menjulang di bagian atasnya.

Bentuk batu menyerupai kapal inilah, yang kemudian mendasari berkembangnya dua versi legenda alias hikayat ataupun cerita rakyat yang berbeda.

Legenda pertama menyebut, bila Batu Jung ini merupakan kapal yang membatu, setelah dikutuk oleh Si Pahit Lidah atau si Serunting Sakti.

Sementara legenda kedua, menyebut Batu Jung ini sebagai kapal layar Malin Kundang yang hilang, yang akhirnya ditemukan membatu seperti Malin Kundang, meski keduanya berada di lokasi berbeda.

Sobat jadi penasaran kan dengan kedua legenda ini? Hehe, JJK akan coba beri ulasan ringkas saja ya guys.

Batu Jung (batu karang) yang bisa dinikmati dengan bersantai di bawah rindangnya pepohonan cemara laut di Pantai Way Hawang Kabupaten Kaur.

Pertama soal asal usul Batu Jung yang disebut sebagai kapal yang dikutuk oleh Si Pahit Lidah atau si Serunting Sakti.

Untuk legenda pertama inipun, juga terdiri atas dua versi berbeda, meski hanya berbeda soal sebab musabab bagaimana Si Pahit Lidah sampai murka hingga menyumpahi kapal ini menjadi batu.

Versi kesatu menyebut, di suatu ketika labuh jangkarlah sebuah kapal yang sedang mencari ikan di kawasan ini. Disaat bersamaan melintaslah Si Pahit Lidah di tepi pantai yang sama, yang kemudian melihat keberadaan kapal yang berjarak hanya beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri.

Si Pahit Lidah kemudian tiba-tiba berteriak dan memanggil-manggil para ABK kapa,l untuk meminta sesuatu (disebutkan dalam salah satu kisah yang diminta adalah api). Namun permintaan ini tak mendapat respon dari ABK maupun pemilik kapal.

Murkalah Si Pahit Lidah karena panggilannya tak direspon. Namun sebenarnya bukan karena diabaikan, melainkan karena jarak kapal dengan Si Pahit Lidah serta gemuruhnya deburan ombak, tak memungkinkan suaranya terdengar oleh para ABK.

Kesal tak berujung, Si Pahit Lidah lantas langsung mengutuk kapal ini menjadi batu, yang seketika itu langsung terjadi.

Versi legenda Si Pahit Lidah kedua, menyebutkan bila Dahulu Batu Jung ini adalah kapal milik seorang saudagar, yang sedang menepi di perairan ini.

Ketika hendak melanjutkan perjalanan kembali, Serunting Sakti ingin menumpang berlayar di kapal ini, namun ditolak oleh penumpang dan nahkoda kapal.

Rasa sakit hatilah yang kemudian membuatnya mengucapkan sumpah serapah, hingga kapal itu menjadi batu.

Pantai Way Hawang di Kecamatan Maje Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, terlihat Batu Jung (batu Karang) dengan ukuran cukup besar di tepian pantai.

Legenda kedua, bahwa Batu Jung merupakan Kapal milik Malin Kundang yang membatu.

Meski Malin Kundang ditemukan membatu di Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatera Barat, namun cerita tentang kapalnya yang menghilang di tengah ombak samudera masih menyisahkan misteri, yang berkembang juga menjadi banyak cerita lain.

Salah satunya dengan Batu Jung, yang diyakini sebagai kapal layar milik Malin Kundang, yang sempat berlayar meninggalkan Malin Kundang di Kota Padang sebelum akhirnya karam dan membatu di Way Hawang sampai saat ini.

Cerita serupa soal kapal milik Malin Kundang ini, juga kabarnya berkembang di negara lain, salah satunya di Brunai Darussalam. Konon di negeri itu, juga terdapat sebuah batu Jong (Jong Batu) yang tak lain merupakan kapal seorang saudagar yang membatu karena dikutuk.

Hamparan luas pasir Pantai Way Hawang yang memutih sejauh mata memandang.

Apapun legenda yang berkembang, yang jelas lokasi ini memang menjadi salah satu lokasi buruan berfoto para travellers yang datang, terutama yang jauh-jauh dari luar daerah Kaur.

Kawasan ini kerap menjadi rujukan lokasi foto-foto outdoor, baik oleh para pasangan yang akan menikah, maupun spot hunting untuk foto model.

Yang jelas, lokasi ini juga masuk dalam daftar recommended sasaran travelling agan-agan semua, versi JJK. Selain indah, lokasi ini juga menawarkan area parkir dan bersantai yang demikian luas dan sejuk.

(RTO030)

Bagikan ke

One thought on “Pantai Way Hawang, Hikayat Si Pahit Lidah dan Malin Kundang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.