Pasar Tradisional, Urat Nadi Ekonomi Yang Tersisih

Sayuran, salah satu komoditas wajib yang selalu ada di pasar tradisional.

Jalanjalankitadotcom – Membicarakan pasar tradisional di Kota Bengkulu, mayoritas kening kita pasti akan mengkerut. Terbayang sudah kondisi pasar tradisional yang berserakan, lembab, kotor dan becek.

Namun persoalan pasar tradisional di Kota Bengkulu tak melulu soal penataan dan pengaturan jenis lapak-lapak yang ada. Yang paling terkenal tentu semrawutnya Pasar Panorama, yang sudah sejak puluhan terakhir cerita penertiban dan keributan antara para PKL (pedagang kaki lima) dan petugas di pasar tersebut tak pernah berakhir, pun sampai detik ini.

Pemandangan kawasan Jalan Belimbing Kota Bengkulu, yang kini juga berubah menjadi lapak-lapak para PKL, bahkan sejak jelang dinihari atau sekitar pukul 23.00 WIB.

Tapi mari kita tinggalkan sejenak keruwetan di Pasar Panorama, dan melongok kondisi beberapa atau salah satu pasar tradisional lain di kota ini.

Kali ini jalanjalankitadotcom sengaja mampir, di salah satu pasar tradisional di kawasan pinggiran kota, tepatnya di kawasan Kampung Bahari Kelurahan Sumber Jaya Kota Bengkulu.

Pasar Bahari, salah satu pasar tradisional di pinggiran Kota Bengkulu yang hingga kini belum juga tuntas direlokasi.

Di sini terdapat Pasar Bahari, yang selintas seolah terlupakan dari sentuhan pembangunan dan modernisasi baik bangunan apalagi sarana yang tersedia. Hanya terdapat lapak-lapak sederhana yang berjubel di sana sini, karena memang sejatinya Pasar Bahari akan dipindahkan pemerintah ke kawasan Kelurahan Kandang.

Sayangnya proses relokasi ini seolah berjalan setengah hati, karena di lokasi pasar yang baru juga belum tersedia sarana memadai baik bagi para pedagang yang berjualan maupun warga yang akan berbelanja.

Ehh iya, selain Pasar Bahari, di kawasan ini sebenarnya ada 3 pasar yang masih berdekatan, mulai dari Pasar Bahari, lalu Pasar Kramia Jaya dan Pasar yang tak jauh dari SDN 75 Simpang Puri Lestari.

Saya malah baru tahu, kalo ternyata ada juga pasar di kawasan Simpang Kandis, seperti yang ditulis mbak Gia dalam artikel Pasar Kramia Jaya, Potret Pasar Bengkulu.

Terlepas dari seluruh persoalan itu, ada satu garis besar hukum ekonomi paling mendasar tentang pasar tradisional.

Pasar Tradisional, entah dimanapun itu berada dan apapun jenis pasar (barang-barang yang diperdagangkan), bisa dipastikan menjadi salah satu lokasi paling ramah sejagat raya bagi kebanyakan masyarakat kita.

Mau dia orang kaya ataupun berada dan berkelas sekalipun, saat membutuhkan ikan ataupun cabe, rasanya tetap akan mencari pasar tradisional.

Oleh karena itulah, pasar tradisional tak pernah kehilangan pelanggan dan pembeli, sehingga menjadi salah saru ladang perputaran uang dan urat nadi ekonomi masyarakat yang paling aktif.

Sayangnya nih, keberadan pasar tradisional acapkali dipandang sebelah mata baik oleh sebagian besar kita maupun pemerintah. Kita seolah sengaja membiarkan keberadaan pasar-pasar tradisional begitu adanya dari tahun ke tahun, dari sejak kita SD pun hingga kita dewasa dan menikah, tetap saja akan memandang sebuah pasar tradisional dengan anggapan, ya pasarnya memang begitu-begitu aja.

Parahnya nih, pola pikir tak mau peduli ini, justru seolah menjangkiti para pengambil kebijakan khususnya pemerintah daerah dan pemerintah pusat, selaku pemilik otoritas pengatur maupun penentu kucuran dana pembangunannya.

Berpuluh-puluh tahun sudah kondisi sejumlah pasar tradisional di Kota Bengkulu, kondisinya ya begitu-begitu saja, tak ada sentuhan pembangunan ataupun modernisasi yang diberikan pemerintah.

Pun demikian dengan banyaknya lulusan dan kajian sarjana dan ahli-ahli ekonomi di sejumlah kampus di Kota Bengkulu, belum pernah kita mendengar ada gagasan ataupun ide terobosan untuk menuntaskan persoalan-persoalan seperti di pasar panorama, melalui riset dan penelitian keilmiahan ala para akademisi.

Salah satu persoalan yang ampe kini tetep hits di Pasar Panorama itu, ya soal penertiban PKL yang gak juga kelar-kelar, ampe nih bu Apura nulis satu artikel khusus tentang pengalamannya Berbelanja di Pasar Panorama ini bersama sang anak.

Seolah para cendekiawan ekonomi kita, justru tenggelam dengan dunia mereka sendiri, dan lupa bila salah satu anggota keluarga mereka, juga terkadang harus membeli cabai rawit ataupun kol di pasar tradisional.

Sri Ampuni, salah seorang pedang sayuran dan ikan lele di Pekan Pagi Perumdam Kota Bengkulu.

Sri ampuni, salah seorang pedagang sayuran di Pekan Pagi Perundam Kota Bengkulu mengisahkan, setiap harinya membuka lapak dari jam 06.00 hingga 10.00 WIB pagi. dari aktifitasnya beberapa jam membuka lapak, ia mampu membiaya sekolah kedua putrinya, sekaligus membantu penghasilan keluarga disamping sang suami yang aktif bekerja sebagai tukang bangunan.

Sesekali ia juga berdagang ke Pasar Bahari, khususnya di sore hari setelah tutupnya Pekan Pagi di Perundam. Menurutnya berdagang sayuran atapun ikan lele di pasar ini, penjualannya juga cukup menguntungkan.

Sayang memang menurutnya, sebagai pedagang ia harus menempati lapak jualan yang alakadarnya, dan jauh dari kata modernisasi.

Ada ratusan bahkan ribuan Sri Ampuni lain di Kota Bengkulu ini, yang sehari-hari menggantungkan nasib keluarganya di pasar tradisional. Sayangnya, keberadan pasar-pasar tradisional di kota ini, lagi-lagi seolah terlupakan dan tergilas dengan modernisasi , tepatnya invansi pemodal-pemodal besar yang perlahan dan pasti menanamkan cakarnya di setiap sudut Kota Bengkulu.

Saat ini memang perlahan baru puluhan warung-warung manisan kecil milik warga, yang harus ditutup karena kalah bersaing dengan kinclongnya ruko-ruko retail banyak toko ala  ….mart. Tapi siapa tahu apa yang akan terjadi, bila para cendekia dan pengambil kebijakan, selalu saja asik dengan dunia mereka yang berkecukupan, dan lupa memikirkan Sri Ampuni- Sri Ampuni di pasar tradisional.

Bisa jadi untuk membeli satu canting cabai rawitpun, nanti kita akan dikenakan pajak di luar harga banderol, ditambah harga siluman antara yang tertera di rak pajangan dengan angka yang ditekan petugas kasir.

Pasar tradisional, dia selalu ada dan pasti ada, tapi selalu saja disisihkan.

(RTO-030, meneruskan curhat pedagang ikan lele)

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari Blogger Bengkulu untuk #nulisserempak tentang #pasardibengkulu

Bagikan ke

16 thoughts on “Pasar Tradisional, Urat Nadi Ekonomi Yang Tersisih

    1. hehehehe…iyah, soale saiki minimorket retail perusahaan gede ada di menong2 bu, berapalah nian besar kota kita ini padahal kan

    1. sepakat dan setujuh om, memang sudah seharusnya campur tangan pemerintah itu lebih pada sifat ngemong dan ngayomi bukan ngusek2 wkwkwk

    1. setuju, hidup pasar tradisional hehehe dan aamiinnn semoga pemerintah lebih kreatif ya mb dalam membuat kebijakan, gak sekedar cari aman dan popularitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.