Sekujang, Versi Sosialnya Halloween di Indonesia

Panitia dan peserta Festival Sekujang saat akan memulai rangkaian betandang dari rumah ke rumahw arga untuk mengumpulkan juada atua kue lebaran, yang nantinya akan dibagikan ke warga kurang mampu agar ikut merasakan kebahagian Hari Raya Idul Fitri. (foto by Arya Gading)

jalanjalankitadotcom – Tentu tak banyak yang mengira bila di Indonesia tepatnya di Provinsi Bengkulu, terdapat sebuah budaya yang sangat mirip dengan tradisi Halloween di Amerika sana. Yap, ia adalah Sekujang, sebuah tradisi budaya unik asal Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu.

Sekujang merupakan salah satu tradisi budaya suku Serawai di Provinsi Bengkulu. Namun uniknya hanya sebagian kecil dari suku ini saja, yang mewarisi ataupun melaksanakannya hingga kini, yakni warga di desa Talang Benuang dan beberapa desa lain di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.

(Baca juga: Kutai Ukem, Jejak Majapahit di Tanah Lebong)

Inipun dari informasi dari mulut ke mulut, tradisi ini sempat tak digelar selama beberapa tahun atas suatu alasan tertentu.

Tradisi Sekujang biasanya digelar bertepatan dengan moment Idul Fitri, tepatnya di hari pertama hari raya lebaran setelah terbenamnya matahari.

Tak ubahnya Halloween, setiap warga di desa ini akan menggunakan anek kostum mengerikan ataupun menyeramkan, bisa seperti kostum pocong, orang-orangan sawah, ataupun kreasi kostum lannya.

Sekitar pukul 20.00 WIB, seluruh warga desa biasanya akan menunggu untuk melihat rombongan peserta Sekujang ini melintas.

Panitia dan peserta Sekujang tengah bertandang ke salah satu rumah warga untuk mengambil juada atau kue lebaran yang disiapkan tuan rumah, untuk dibagikan kepada warga lain yang kurang mampu. (foto by Arya Gading)

Kemudian baik warga maupun para peserta Sekujang yang telah mengenakan aneka kostum, berjalan di sepanjang jalan utama desa dan bersama warga menyinggahi setiap rumah yang dilintasi, untuk meminta juada atua kue lebaran.

Jang Sekujang Minta Lemang SebatangMinta Duku SematoBatan Buko Rayo Rayo...”, ini salah satu penggalan pantun yang diucapkan rombongan peserta dan panitia Sekujang, saat bertandang ke tiap-tiap rumah warga.

Seluruh juada atau kue lebaran yang terkumpul ini, nantinya akan dibagi-bagikan kepada warga yang dinilai kurang mampu agar bisa ikut merasakan kebahagiaan perayaan Hari Raya Lebaran. Nah disinilah guys pembedanya nama Halloween nya Amerika sono, di sini ada misi sosialnya githu, kerenn kannn hehehe.

Rombongan peserta pawai maupun warga, biasanya akan memadati jalan poros utama desa, yang kebetulan juga merupakan akses jalan lintas barat (Jalinbar) Sumatera yang melintasi Kabupaten Seluma.

Sehingga tak jarang, arak-arakkan ini kadang kala membuat arus kendaraan dari kedua arah macet selama beberapa saat.

Nah kalo ini pocong-pocongan gaul yang nekat nyetir mobil untuk menjemput juada alias kue lebaran hehehe (foto by Arya Gading).

Beruntungnya karena kegiatan ini berlangsung di hari pertama Idul Fitri, arus kendaraan biasanya sudah jauh lebih sepi.

Jadi inilah cerita unik di hari nan fitri dari Provinsi Bengkulu. Lagi-lagi cerita ini datang dari tradisi budaya Suku Serawai di Provinsi Bengkulu. Satu tradisi lain Suku Serawai yang juga khas hanya ada di malam Takbiran, adalah Menjamu atau Mendua atau Bedua.

Nah ini juru foto nya, si Arya Gading (jaket ijo plus megang helm) hehehe.

Tapi jangan salah eja yah, cara baca kata “Mendua” atau “Bedua” ini, sedikit beda dengan ejaan bahasa Indonesia, karena memiliki akses khusus sesuai dialeg bahasa Suku Serawai.

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari Blogger Bengkulu untuk #nulisserempak tentang #lebarandibengkulu #akubloggerbengkulu.

Bagikan ke

6 thoughts on “Sekujang, Versi Sosialnya Halloween di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*