Silindung Bulan, Istana Dengan Ratusan Ukiran Minang

Istana Silindung Bulan, berada di Nagari Pagaruyung Kota Batusangkar Kabupaten Tanah Datar.

jalanjalankitadotcom – Perjalanan wisata di Nagari Minang, kami awali dengan menginjakkan kaki di Kota Batusangkar ibukota dari Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.

Entah bagaimana awalnya, kota tujuan pertama kami berubah di hari terakhir sebelum keberangkatan menuju Sumatera Barat.ย  ๐Ÿ˜€ย  ๐Ÿ˜ฎ

Awalnya sih kami pengen memulai perjalanan wisata kami dari Kota Bukit Tinggi, dengan mengambil rute Jalinbar Sumatera melalui Kabupaten Mukomuko, Tapan, Painan, Kota Padang lalu ke Bukit Tinggi. Dari Bukittinggi barulah kami berencana menentukan kota-kota lain yang akan kami singgahi berikutnya.

Ini karena kami memang ingin menempuh perjalanan darat agar bisa sekaligus jalan-jalan hehe. Tapi buat sobat traveller yang ingin memanfaatkan waktu liburan singkatnya, bisa juga berburu di tiket.com untuk mendapatkan rute dan harga tiket pesawat terbaik ke Sumatera Barat guys.

Kami akhirnya memutuskan memutar arah, dan memilih Jalan Lintas Tengah Sumatera (Curup – Lubuklinggau – Sarolangun – Muaro Bungo – Damasraya) lalu berbelok di pertigaan Sijunjung menuju Batusangkar. ๐Ÿ˜Žย  ๐Ÿ˜‰

Tapiย  kami toh akhirnya tetap happy, selain karena cuaca yang tengah bersahabat juga karena setelah menebalkan pantat sejak pukul 07.00 WIB, akhirnya sekitar pukul 22.00 WIB kami bisa menikmati hangatnya soto Minang di Kota Batu Sangkar. ๐Ÿ™‚ย  ๐Ÿ˜€

Dan setelah temu sowan dengan para punggawa klub Tiger Batusangkar yakni Intro Batusangkar, kami kemudian diantarkan ke sebuah penginapan tak jauh dari alun-alun kota. Hemm sayang yah karena sudah terlalu larut, jadinya kami tidak sempat ngebolang menikmati keindahan malam di jalanan kota yang dingin ini.

Beres dengan sarapan mini ala penginapan para sales dan sopir truk ini, kami pun bergegas packing dan keluar penginapan dengan semangat. Maklum, pagi itu trip pertama kami jalan-jalan berdua keluar provinsi soale hehe.

Menu sarapan hemat kami pada pagi pertama di Nagari Minangkabau.

Meski sempat berniat mencari oli baru untuk macan merah, namun akhirnya niat ini kami urungkan karena susah rupanya menemukan brand oli yang biasanya ane gunakan.

Macan merahpun lalu kami gas untuk mencari lokasi Istana Basa Pagaruyung, yang menjadi salah satu pertimbangan berubahnya keputusan kami tepat sebelum berangkat hehe. ๐Ÿ˜Žย  ๐Ÿ˜Ž

Namun perjalanan terhenti, saat pandangan kami terganggu oleh sebuah bangunan Rumah Gadang yang khas dan terkesan megah, meski secara ukuran tidak terlalu besar dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. ๐Ÿ˜†ย  ๐Ÿ˜†

Rumah Gadang yang belakangan kami ketahui sebagai Istana Silindung Bulan ini, tampak dipenuhi aneka ukiran relic sangat khas yang tak ada pada bangunan-bangunan lain yang kami jumpai sebelumnya.

Kami sempat terheran dan mengira bahwa inilah Istana Basa Pagaruyung. Tapi kami tidak yakin, karena Istana Basa Pagaruyung kan secara ukuran saja sudah sangat besar, plus ditambah area tamannya yang sangat luas.

Penampakan Istana Silindung Bulan dari tepi jalan, meski ini dulunya merupakan istana raja-raja Pagaruyung, saat ini sudah didirikan replika istana dalam ukuran yang jauh lebih besar yang lebih dikenal dengan Istana Basa Pagaruyung yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Istana Silindung Bulan.

Pandangan kami langsung tertuju pada dua bangunan di bagian depan Istana Silundung Bulan, yang terkesan mirip seperti menara. Kedua bangunan ini adalah Rangkiang, yang merupakan tempat penyimpanan padi milik anggota keluarga Kerajaan Pagaruyung.

Kedua Rangkiang ini, menurut referensi yang kami dapatkan, masing-masing dinamakan Si Bayau-bayau dan Si Tinjau Lauik.

Istana Silindung Bulan sendiri, terletak di Nagari Pagaruyung Kota Batusangkar, sekitar 2-3 kilometer dari alun-alun Kota.

Menurut sejarahnya, istana ini sudah berulang kali dibangun ulang sejak berdiri ratusan abad lalu, utamanya karena habis terbakar. ๐Ÿ˜ฅย  ๐Ÿ˜ฅ

Prasasti peresmian Istana Silindung Bulan pasca renovasi. Prasasti berada persis di bagian depan Istana Silindung Bulan.

Istana dengan ukuran 28 x 8 meter ini, juga disebut dengan Rumah Gadang Sambilan Ruang. Bangunan yang ada saat ini (tahun 2017), merupakan bangunan baru yang didirikan di atas tapak Istana sebelumnya yang terbakar pada tahun 1987 lalu.

Nah sesuai dengan apa yang kami lihat tadi, Istana Silindung Bulan ini memang unik, dengan model “Alang Babega” yang berbeda dengan istana-istana lain yang ada di Minangkabau. Menurut riwayat sejarahnya, model “Alang Babega” ini merupakan model bangunan khas tempat para raja dan keluarganya menginap.

Secara keseluruhan, diperkirakan ada lebih dari 200 jenis motif, yang ada di seluruh bagian bangunan Istana Silindung Bulan. Di bagian dinding istana ini, ada begitu banyak hiasan ukiran berbagai jenis, diantaranya Pucuak Rabuang dan Aka Cino yang dipadukan dengan hiasan Tabentang Kalangik.

Kemudian ada motif Si Kambang Manih yang terletak di bagian atas jendela. Sementara pada bagian bawah pinggir atap, terdapat tiga jenis ukiran masing-masing Pisang Sasikek, Aka Cino dan Tantadu Bararak.

Nah ini penampakan bagian samping bangunan istana yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah.

Lalu bagian depan yakni di pintu masuk, terdapat jenis ukiran Tupai Managun, Daun Bodi, Saik Wajik, Buah Palo Bapatah dan Bunga Lado. Sementara bagian atap, memiliki tujuh buah gonjong (tajuk) yang menjulang ke langit.

Soal nama Silindung Bulan, rupanya merupakan nama yang diberikan kepada Istana Raja Pagaruyung, setelah pemindahan dari Ulang Tanjung Bungo ke Balai Janggo sekitar tahun 1550, ย oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Gamuyang Sultan Bakilap Alam, yang merupakan Raja Alam sekaligus pemegang jabatan Raja Adat dan Raja Ibadat Pagaruyung.

Bagian dalam dari Istana Silindung Bulan, dominasinya warna kuning dan merah ciinn hehehe.

Tahun tersebut sekaligus menjadi penanda berlakunya hukum syariat Islam di seluruh Kerajaan Pagaruyung, menggantikan hukum yang bersumber dari agama Budha Tantrayana.

Pada bagian dalam, Istana Silindung Bulan ini memiliki 4 kamar tidur dan dua buah anjung. Anjung di samping kanan merupakan Anjung Emas, sementara di sisi lain merupakan Anjung Perak. Anjung Emas merupakan tempat tahta Raja yakni Raja Tuo, sementara Anjung Perak merupakan tempat Tuah Gadih.

(Batusangkar, 24 Maret 2017)

Bagikan ke

30 thoughts on “Silindung Bulan, Istana Dengan Ratusan Ukiran Minang

  1. Aku lagi mikir,kayanya aku belum deh ke Istana Silindung Bulan ini. Aku enggak ingat waktu itu ke Istana Paguruyung yang mana hehehe… Akibat sampai sudah sore, pantat pegal dari jam 8 pagi berangkat dari Padang kayanya.
    Tapi sama cantiknya. Wisata di Sumatra Barat rasanya terpuaskan sekali dengan pemandangan alamnya dan wisata budanya, ya.

    1. hehehe…biasanya sih pengunjung akan langsung diarahkan ke Istana Basa Pagaruyung yang di Padang Siminyak yang merupakan replika dari Istana yang asli namun dalam ukuran yang jauh lebih besar. Peruntukkannya yg Istana Basa saat ini memang utk kunjungan wisatawan. Wah nanggung banget tuh udah jauh2 dari Kota Padang hehehe, speertinya harus ada trip ulang ke sini mb hehe

  2. Belum pernah ke padang mas apalagi ke Istana Silindung Bulan, tapi keren tuh ulasanya buat referensi nanti kalau berlibur ke padang temapat mana saya yang harus di kunjungi…

    1. nah sama nih posisi nya seperti kami pas mau berangkat, sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Sumatera Barat negeri Minangkabau yg termashsyur itu hehehe. Kayaknya selagi kita di Sumatera ini, wajib dah buat nyempetin mampir ke Sumbar dan Toba di Medan tentunya hehehe

    1. hehe…Nagari Minangkabau memang pasti bikin kita pengen balik lagi, tak puas rasanya bila cuma itungan hari. Nah wajib nih landing di salah satu daerah yang ada salah satu maskot utamanya Minangkabau hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*