Tradisi Unik, Jamuan Di Malam Takbiran

Nih beberapa tetangga dan kerabat istri tengah mengambil sajian menu prasmanan yang disiapkan tuan rumah dalam sebuah Acara Menjamu” persis di malam Takbiran 1438 Hijriah lalu.

jalanjalankitadotcom – Merayakan datangnya Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia raya kaya akan aneka kegiatan dan tradisinya yang unik, yang telah diwariskan secara turun temurun.

Ehh tapi ๐Ÿ˜‰ sebelumnya kami berdua menyampaikan Mohon Maaf Lahir dan Batin yah buat sobat traveller dan pembaca semua, dan selamat merayakan Idul Fitri nih buat rekan-rekan sesama muslim dimanapun berada. ๐Ÿ˜‰ย  ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜Ž

Kalo di Bengkulu, ada beberapa tradisi unik yang gak umum ane temui di daerah lain, pan kalo takbir atau pawai keliling sambil bawa obor dan bedug, itu udah jadi habbit utamanya kita di Indonesia kan sob.

(Baca juga:ย Kutai Ukem, Jejak Majapahit di Tanah Lebong)

Nah ini ada beberapa tradisi unik yang menurut ane itu gak umum ditemui di Indonesia. Uniknya lagi, tradisi itu gak cuna digelar saat malam menjelang datangnya Idul Fitri, namun juga satu malam pasca hari kemenangan.

Ada dua tradisi unik yang ane temukan di Bengkulu, pertama tradisi Sekujang (mirip-mirip hallowen di Amerika, tapi di sini ada misi sosialnya githu) dan kedua tradisi Bedua atau Mendoa, yakni saling menjamu jiran tetangga persis di malam tabiran, yang banyak ditemukan pada komunitas masyarakat suku Serawai (Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur) dan Lembak (Kota Bengkulu-Bengkulu Tengah).

Tapi kita akan bahas dulu tradisi unik yang kedua yah, yakni Bedua atau Mendua atau Mendoa. Tradisi ini merupakan warisan turun temurun suku Serawai, yang merupakan salah satu suku asli di Provinsi Bengkulu. Suku Serawai sendiri merupakan suku asli wilayah Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan sebagian besar Kabupaten Kaur.

Untuk tradisi Sekujang, sobat traveller bisa menikmati ulasan lengkapnya dalam catatan kami yang lain, yakni Sekujang, Versi Sosialnya Hallowen di Indonesia. ๐Ÿ˜Žย  ๐Ÿ˜Žย  ๐Ÿ˜Ž

Seiring perkembangan, keberadaan suku Serawai menyebar hingga ke berbagai penjuru provinsi di Sumatera, karena memang suku ini terkenal kegigihannya dalam berkebun atau membuka lahan perkebunan baru.

Dan ini uniknya, dimanapun mereka berada, meski jumlah komunitasnya tak terlalu banyak namun sejumlah tradisi tetap dilestarikan.

Dan tahun ini adalah tahun pertama ane, tinggal berada di tengah tengah warga Serawai. Niatnya sih di hari terakhir ramadhan, ingin berbuka bersama dengan istri di rumah, eh begitu sampai sang istri langsung berpesan, berbuka puasanya jangan sampai kenyang karena ada undangan menjamu.

Lah malam takbiran kok ada undangan mendoa pikir ane. Uniknya lagi rupanya ada dua undangan berbeda yang diterima sang mertua, sehingga ane dan istri diminta memenuhi salah satu undangan. ๐Ÿ™„ย  ๐Ÿ™„ย  ๐Ÿ™„

Dengan rasa penasaran dan penuh tanya, usai berbuka dan menunaikan sholat magrib, melangkahlah ane dan istri menuju rumah penyelenggara, yang ternyata masih kerabat dekat mertua.

Benar saja, saat kami tiba, rupanya sudah dibagian akhir acara mendoa. Jadilah baru 5 menit duduk, kamipun langsung dipersilahkan untuk menuju meja prasmanan, dimana aneka hidangan sudah disajikan.

Di bagian akhir doa sendiri, sebelumnya ane sempat mendengar rangkaian doa termasuk takbir.

Namanya di rumah kerabat sendiri, jadi ane pun betah berlama-lama memilih menu gulai dan sayuran khasnya suku Serawai yang bikin bawa pulang tuh menu banyak-banyak wkwkwkย ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜†ย 

Satu hikmah utama yang ane dapat diantaranya, tradisi mendoa suku Serawai ini menjadi ajang silaturahmi yang sangat kuat bagi seluruh yang hadir.

Betapa tidak, pada moment idul fitri, para perantau tentu akan pulang dan akan bertemu satu sama lainnya di momment ini.

Bayangin nih, kita yang dah lama gak balik ke rumah, bisa melakukan reunian gratis tanpa mesti repot-repot bikin persiapan khusus ini itu, karena cukup memenuhi undangan Mendoa yang ada.

Keuntungan lainnya, pertemuan di malam takbiran dalam moment Menjamu ini, itung-itung sekalian nyicil rute silaturahmi buat esok karena mayoritas sanak family dan warga sudah kita temui dan saling maaf-memaafkan. ๐Ÿ˜‰ย  ๐Ÿ˜‰

Tidak ada syarat khusus atau ketentuan tertentu, untuk menggelar Menjamu ini. Setiap rumah tangga atau warga suku Serawai bisa menggelar Menjamu atau tidak, tergantung kelapangan atau kesiapan yang dimiliki baik waktu maupun menu yang ingin disajikan.

Nah ini beberapa menu yang sempat terpotret oleh android saya, yang keburu ngiler hingga loadingnya lama banget saat mau dipake moto.

Nah bagaimana sob, kalo di daerah kalian ada tradisi apa saja yang khas baik menyambut datangnya Idul Fitri ataupun dalam perayaannya? Share juga yah di kolom komenterย  ๐Ÿ˜‰ย  ๐Ÿ˜‰ย  ๐Ÿ˜Ž

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari Blogger Bengkulu untuk #nulisserempak tentang #lebarandibengkuluย #akubloggerbengkulu.

Bagikan ke

8 thoughts on “Tradisi Unik, Jamuan Di Malam Takbiran

    1. wah ada juga ya mb berarti, berarti gak hanya di suku Serawai ya tradisi ini, btw lembak yg di sekitar Benteng dan Kota Bengkulu atw yg di sindang kelingi hingga PUT Rejang Lebong itu ya tepatnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*